Monday, July 31, 2006

Tribe : Belajar dari Orang-orang Pedalaman

Berburu buaya untuk makan malam, menikmati ulat pohon sago sebagai lauk, minum darah lembu sebagai pengganti air atau menjadi bagian dari pejuang paling ditakuti di lembah Omo di Ethiopia. Sepertinya gambaran berikut melengkapi betapa primitifnya masyarakat suku-suku terasing di bumi ini. Tapi ini juga tentang sebuah acara televisi yang mengajak pemirsa untuk memahami budaya dengan cara berbeda.

Lewat serial Tribe yang baru saja disiarkan BBC2 Bruce Parry mencoba menjadi bagian dari kehidupan pedalaman ; bukan hanya sekedar penonton atau pembuat film. Bruce Perry adalah mantan pelatih marinir Inggris termuda, memimpin berbagai ekspedisi di Borneo dan Papua, juga menghasilkan film2 dokumentasi menarik seperti Extreme Lives. Dalam pendekatan kali ini Bruce memilih untuk tinggal minimal dua minggu dengan suku pedalaman ; hidup, makan, tidur, bergaul, bekerja dan bertingkah seperti mereka.

Seri Tribe ini adalah bagian kedua dari seri sebelumnya yang disiarkan tahun 2005, berhasil mendapat kritik bagus dari para pengamat teve. Di US, seri I dikemas dengan judul Going Tribal yang disiarkan oleh Discovery Channel ini bercerita tentang menelusuri kehidupan keenam suku terasing di pojok-pojok dunia.

Mereka adalah suku Adi (India), Suri (Ethiopia), Kombai (Papua), Babongo (Gabon), Darhad (Mongolia) dan Sanema (Venezuela). Sedang seri II adalah ekspedisi tiga bulan di Afrika untuk mengamati tiga suku yang selalu terlibat konflik : Nyangatom, Hamar, dan Dassanech.

Seperti yang diungkapkan Bruce, Tribe adalah melihat bagaimana masyarakat lain hidup dan mempertanyakan tentang bagaimana kita hidup saat ini. Tentang nilai-nilai keluarga, masalah gender, sex, drugs, kesehatan, dan kelanjutan hidup. Konsep mereka yang sederhana diterjemahkan dengan manis lewat interaksi mendalam berupa bagaimana mereka hidup, masalah apa yang dihadapi dan tentu saja masalah konflik atau perang.

Suku Kombai yang masih mengenakan koteka menuntut Bruce untuk menanggalkan baju sebagai ungkapan niat tulus, sedang suku nomaden Darhad yang dulunya tertutup membuka diri setelah keluar dari cengkeraman Rusia. Bahkan suku Adi di Himalaya belum pernah bertemu dengan orang asing sebelumya.

Selain menuntut untuk hidup dengan cara mereka, Bruce berhasil menggambarkan kehidupan mereka dengan konsep yang jelas. Tentang makanan misalnya, adalah sulit dipahami jika minum darah kerbau adalah salah satu bentuk survival, makan serangga hidup dengan nasi, berburu buaya untuk dibakar adalah upaya mereka memanfaatkan apa yang ada disekitarnya. Konsep sederhana : mengambil dari alam dengan bijaksana adalah benang merah antara suku2 dimanapun. Mereka menyadari mengambil lebih dari yang dibutuhkan bukan saja menghancurkan kestabilan sumber hidup namun menjadi sebuah konsep reliji. Bahwa roh dan tetua tidak mengijinkan memperkosa alam.

Bruce juga berusaha untuk berburu, membuat rumah, memancing, dan juga berlatih perang. Dengan Nyangatom misalnya yang terkenal dengan keganasan tentaranya, Bruce berhasil mendapatkan gelar satria setelah melalui tahap-tahap inisiasi yang tidak mudah. Dengan suku Kombai di Papua, Bruce meninggalkan sepatu dan mencoba berburu babi hutan dengan kaki telanjang, memancing dengan meracuni ikan, tinggal di rumah pohon dan membersihkan kotoran telinga dengan memasukkan ulat.

Ada banyak nilai dan benturan budaya seperti yang diakuinya sendiri. Masalah kanibalisme di suku Kombai ; daripada menunjuk tradisi ini sebagai barbarian, Bruce memilih untuk bijaksana, menanyakan bagaimana tradisi berawal dan kenapa mereka memutuskan memakan orang. Para suku yang diberitakan ganas dan tidak berperikemanusiaan ini terlihat begitu polos, bersahabat dan sangat terbuka. Ini bukan saja mengajak penonton untuk bersimpati pada budaya dan perilaku mereka namun juga memahami dari sisi anthropologi.

Awalnya serial ini cukup kontroversial terutama di kalangan akademisi. Bukan saja kehadiran orang asing di sebuah suku akan memberikan visi berbeda dari yang selama ini mereka kenal. Sentuhan dan kontak akan menjadikan budaya mundur, stagnan atau bahkan berubah. Namun seri Tribe justru memberikan wacana baru untuk kita memahami permasalahan masyarakat modern dari kacamata sederhana.

Berbicara tentang permasalahan modern, para suku asing ini terancam berbagai hal seperti halnya penyakit, penyalahgunaan hak asasi manusia, air, tanah dan hak milik juga marginalisasi dari negara mereka sendiri dan ulah pihak luar. Masalah penyakit, tambang dan logging gaharu di Papua misalnya adalah contoh klasik tentang minusnya perhatian terhadap suku Kombai.


Saya jadi teringat kisah Bruno Manser yang menghabiskan enam tahun (1984-1990) hidup dengan suku Penan di Serawak Malaysia. Kisahnya saya tonton sewaktu nginap di The Highlanders Miri. Waktu itu saya ditawari untuk menonton film dokumenter sembari melepas lelah. Film itu mengisahkan bagaimana Manser mewakili masyarakat suku pedalaman untuk mengajukan protes terhadap pemerintah Malaysia terhadap praktik logging yang menyerobot wilayah teritori Penan. Lewat blokade jalan, aksi Manser ini mendunia menjadikan ia musuh nomor satu pemerintah Malaysia. Tahun 2000 Bruno Manser dikabarkan hilang setelah sempat mengirimkan surat terakhir dari lembah Bario di Kelabit Highland (berbatasan dengan Indonesia). Spekulasi menyebutkan ia dibunuh dan dibuang di rimba raya karena tergiur hadiah $40,000 untuk mendapatan kepalanya.

Bruno Manser menghasilkan buku catatan yang kaya akan kehidupan masyarakat Penan, bahasa, budaya, agrikultur dan bahkan seni. Hanya saja jejak Bruno sepertinya hilang ditelan kebuasan kapital, sedangkan Bruce menghasilkan dengung panjang tentang begitu berartinya nilai-nilai sederhana masyarakat pedalaman.
It's about people who are so important to the world, who could teach us all so much in these troubled times. That's what Tribe is to me.



Thursday, July 27, 2006

Let's fight for SPAM and SPIM



Beberapa hari ini saya menerima pesan mengganggu di mailbox dari seseorang yang menawarkan produk jasa tertentu. Saya mencurigai orang ini (haloo Indriawan Heru Purwanto !!) mencuri nama dari berbagai milis yang diikutinya. Semenjak Yahoo menggunakan spam filter di Yahoo Groups rupanya para spammers mengambil cara lain, yakni langsung kirim email ke orang yang bersangkutan tanpa melalui milis.

Jadi ringkasnya apa sih spam itu ? Apakah email yang berisi karakter2 aneh (terkadang dengan huruf kanji atau bahasa asing) atau yang menawarkan produk2 ngg jelas seperti lotre dan viagra?

Pada dasarnya SPAM adalah email yang tidak kita kehendaki, entah itu datang dari dalam negeri (yang menawarkan model multi level marketing seperti kasus Anne Ahira) atau luar negeri. Email yang tidak kita kehendaki bersifat mengganggu, karena :

1. Kita ngg menginginkan info tsb
2. Kita dipaksa membaca info tsb
3. Mengakibatkan mailbox penuh email sampah
4. Kita dipaksa mendelete email

So jadi cukup menganggu terutama jika spam itu datang dengan kuantitas yang gila2an. Terlebih saat ini mulai berkembang Viral Email (email berantai) yang biasanya disebarkan melalui corporate (kantor/perusahaan). Viral bisa dibilang spam jika kita tidak menghendaki-nya. Maksudnya sih buat lucu2an tapi ketika anda mem-forward email ke belasan teman pikirkan sekali lagi apakah teman2 anda itu bersedia menerima info seperti ini.

Lantas apakah SPIM itu? Spim adalah pesan yang tidak kita kehendaki tetapi disebarkan melalui IM (Instant Massaging). Saya beberapa kali menerima spim ini dengan pengantar : "mohon disebarkan ke teman2 dekat anda, silakan lihat di link ini tentang anu ". Kasus yang baru saja adalah spim tentang gempa bumi yang terbukti bohong belaka dan (again) tentang perang Israel-Lebanon yang berusaha memanas-manasi publik dengan sentimen agama.


Pada prinsipnya penyebaran informasi melalui internet dibutuhkan kepala dingin dan kebijakan untuk menilai informasi mana yang layak disebarkan. Jika tidak anda akan menjadi bagian dari para spammers dan spimmers hingga menyuburkan praktek orang-orang tak bertanggung jawab ini.

Tips untuk mencegah spam *from Yahoo Mail

  • Lindungi email anda -perlakukan seperti nomer telpon
  • Gunakan email yang menawarkkan spam filters seperti Yahoo dan Gmail
  • Jangan pernah mengirim password, nomor credit card atau informasi personal lainnya di email.
  • Jangan memasang email di tempat2 umum (e.g., newsgroups, message boards, chat rooms) -dimana para spammer bisa mengambili alamat email.
  • Jangan mereply emailyang mencurigakan -abaikan saja. Sekali anda merespon maka berarti email anda dianggap valid dan spam akan makin gencar
  • Jangan pernah klik link atau URL yang ada di email spam -ini juga bisa memberikan indikasi bahwa email anda valid
  • Jangan men-forward email berantai

Cara ngeblok Email di Yahoo Mail

Ini hanya bisa dilakukan melalui web, jadi buka Yahoo.com > Yahoo Mail dan ikuti langkah berikut :
  • Ikuti Mail Options link di bagian atas navigasi bar
  • Pilih Block Addresses, yang biasanya ada dibawah Management.
  • Masukkan email yang ingin anda blok dibawah Add Block.
  • Pilih Add Block.
  • Pilih Yes untuk ngeset blok. Yahoo bisa ngeblok 500 alamat email, cukuplah buat menangkal para spammers ini
Jadi apakah spam dan spim selalu menjengkelkan? Oh ternyata enggak juga. Ada orang kreatif yang menggunakan kata2 di spam email untuk membuat tshirt. Salah satunya adalah spamshirt.com yang terbukti laris manis. Gambar ini adalah kaos kampanye kami untuk anti spam. Ternyata lucu loh....

Labels:

Monday, July 24, 2006

I do not hate Jew but I hate WAR


Miris sekali mendengar, membaca, melihat perang baru Israel-Lebanon. Saya masih ingat ketika di tahun 1980an berita yang sama menghiasi tv dan koran di Indonesia. Saya masih kecil, tapi saya bisa mengingat foto dan gambar hidup tentang gedung yang poranda dan anak2 yang menangis. Karena itu saya ingin berbagi melihat perang dari sisi yang lain.

Ketika kemping ke London beberapa minggu lalu saya sempatkan pergi ke Imperial War Museum. Saya pernah melihat museum yang sama di Manchester, jadi sebelum memasuki gerbang saya tidak terlalu berharap ada perbedaan yang besar antara keduanya. Tadinya saya berpikir ah ngapain sih liat2 museum beginian...perang kan sudah usai. Ternyata saya salah. Melihat museum seperti melihat sejarah dan menyadarkan saya bahwa perang bisa terjadi dimana saja, dengan alasan apa saja. War of Terror, War of Poverty etc..

Begitu memasuki gedung nan tinggi terlihat display yang menarik. Ada tank dan roket yang dibuat transparant sehingga kita bisa melihat di dalamnya. Tehnologi yang dipakai dan juga efect lethal yang diakibatkannya. Little Boy misalnya adalah nama sandi bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima 6 Agustus 1945. Sedang Fat Man adalah bom atom yang dijatuhkan tiga hari kemudian yang mengakhiri Perang Dunia II. Tercatat lebih dari 100ribu orang meninggal dan banyak yang selamat mengalami efek radioaktif hingga akhir hayatnya.

Little Boy adalah produk eksperiment Amerika yang tidak pernah diujicoba, sedang Fat Man sempat ditest di Alamogordo, New Mexico tiga minggu sebelum diluncurkan di Jepang. Kedua bom atom ini mempunyai tehnologi berbeda. Little Boy dari uranium dan Fat Man dari plutonium. Saya terperangah dengan bentuk fisik Little Boy. Begitu kecilnya hanya dengan panjang 3m berdiameter 71cm tapi tingkatan destruktifnya luarbiasa.

Hari itu kebetulan ada pameran The Children's War : The Second World War through the eyes of the children of Britain. Ini seperti melengkapi cerita PDII yang tidak pernah saya dapati di sekolah. Ketika ancaman Fasis Jerman mulai terasa, Hitler mulai mengeluarkan ancaman untuk menyerbu London kapan saja. Dimulailah kampanye mengungsikan anak2 dari ibukota untuk tinggal di desa. Disana anak-anak ini dititipkan kepada para petani sembari menolong mengerjakan pekerjaan berkebun. Tahun itu juga semua anak dibekali masker anti gas sebagai upaya penyelamatan diri jika Nazi mendrop gas beracun. Gas yang sama yang digunakan untuk membunuh para Jew/ Yahudi di kamp konsentrasi (Holocaust).

Saya dituntun menuju tempat yang beda. Oh ternyata saya memasuki rumah dengan setting jaman 1940an. Semuanya seperti nyata apalagi saya bareng dengan pasangan yang mengalami masa2 itu. Jadilah kami bernostalgia tentang bunker di dapur yang dibuat seperti kandang ayam dari baja, bunker di bawah tanah untuk menghindari serbuan bom dari udara berikut dapur dengan makanan dijatah.

Hmm saya pikir selanjutnya mumpung disini saya harus melihat pameran Holocaust Expedition di bagian lain museum. Saya jadi penasaran seperti apa sih 'mistis' tentang genocide rasial itu. Memasuki ruang saya langsung merasakan dingin. Setting pameran dibuat hitam, sendu, kelam mungkin ingin menggambarkan sekelam peristiwa itu. Di pintu sudah ada peringatan bahwa anak-anak dibawah umur 16 dilarang memasuki ruangan. Alasannya : foto2 terlalu sadis dan menyedihkan.

Pertama saya disuguhi sederetan kampanye anti semit yang ternyata sudah dimulai sejak jaman dahulu kala (70AD ketika Yahudi masih dibawah sekte agama Kristen). Juga film pendek tentang asal muasal kebencian terhadap kaum Yahudi.
Di Jerman ketika kaum fasis Jerman mengambil alih kekuatan dengan partai Nazi, Hitler memulai propaganda untuk menciptakan super-ras. Yakni bentukan ras yang mempunyai keunggulan fisik dan otak. Hitler tidak hanya mengincar Jew di Jerman tetapi juga rasial lain seperti di Polandia, Rusia, Ukraina, Belarus, Serbia dan Rumania termasuk kaum gipsi, komunis, cacat fisik/mental dan homoseksual. Beberapa bahkan dibuat kelinci percobaan atas senjata militer yang baru ditest.

Lantas saya dijejali berbagai kampanye kebencian dan tindakan2 yang sungguh susah diterima. Seperti Hingga akhirnya ke jantung peristiwa Holocaust itu sendiri. Pembunuhan massal itu. Yang mengiris sebenarnya adalah begitu metodik dan sistematis pembunuhan itu dilancarkan dengan data-data sensus. Daftar panjang orang-orang berdasar ranking rasial dan kondisi fisik dikategorikan sebagai 'layak dimusnahkan'. Bukti juga mengungkapkan berbagai cara dilakukan dengan percobaan untuk mendapatkan metode yang cepat, aman, dan efsien artinya bisa membunuh banyak orang dalam waktu singkat.

Ah saya ngg tahan liat foto2 mayat bergelimpangan. Tapi saya lanjutkan untuk melihat bagaimana kaum Yahudi mencoba bangkit, bagaimana dunia (Tentara Sekutu pemenang PDII) melampiskan rasa bersalah mereka dengan memperkenankan kaum Yahudi tinggal di wilayah Palestina yang kemudian menjadi konflik baru di kemudian hari.

Saya kemudian membayangkan peristiwa sama di Bosnia ketika dunia internasional gagal mencegah pembunuhan massal ribuan muslim disana, atau pembunuhan ribuan kaum Kurdi di wilayah Iraq yang dilakukan Saddam Hussein, atau kebencian rasial Hutu-Tutsi di Rwanda dan bahkan bom bunuh diri. Ketika beranjak keluar saya menikmati sinar matahari pagi, bernafas lega bahwa saya tidak diantara konflik dan perang. Tapi di belahan dunia ini, perang akan menjadi bagian sejarah manusia. Dan anehnya kita tidak pernah belajar dari sejarah.

Labels:

Thursday, July 20, 2006

The Law Should Not Inhibit Adventure

Just read from BBC News about Mt Everest's case related with tour operator of adventures activity.

Michael Matthew, 22yo bloke missing presumly dead in decent of Mt Everest. His dad blamed climber operator Alpine Mountaineering Ltd, formerly known as Out There Trekking Ltd.

The judge dismissed the case and said that "the law should not inhibit adventure".

"If ever a criminal charge should be emphatically dismissed this is it," he said. He added: "A prosecution case was based upon pure and wholly impermissible speculation." He said it was clear strong emotions were behind the decision to bring the case to trial.
I have been doing adventures for quite while and as an adult I realise the danger. Most of the activities I did need adequate training, physical challenge and mental preparation. What drove people doing adventures these days are so various. I like doing it because it's give me sort of personal achievement. As I share it to you basically because I want people feel that they are actually can do the same.

Realising the risk, taking it as a challenge, and knowing the responsibility also part of our understanding what the adventures all about. Not just an adrenaline junkies.


Labels:

Sunday, July 16, 2006

British Library : Kesan Pertama Begitu Menggoda


Sewaktu ke London sasaran saya sebenarnya adalah British Library (BL) dan British Museum (tunggu cerita selanjutnya). Library adalah tempat yang selalu saya akrabi. Sejak Sekolah Dasar saya paling rajin meminjam buku, menghabiskan berjam-jam melahap buku cerita anak2 seperti Lima Sekawan (The Famous Five) atau majalah anak2 Bobo.

Hingga tinggal di UK ini saya selalu jadi member library di tempat saya tinggal. Birmingham, Solihull, Wolverhampton, Stratford on Avon namun tidak pernah sekalipun di British Library. Maka dengan niat menyala seminggu sebelum pergi saya mendaftar melalui surat untuk menjadi member. Tidak sulit, hanya meminta beberapa bukti diri beserta penjelasan kenapa ingin menjadi member.

Namun hingga kedatangan saya di London tidak ada surat balasan, tapi saya tetep nekat datang. Dari Basingstoke saya ke Waterloo Station dengan kereta nyambung ke BL. Waktu itu saya sudah dibelikan kartu bis untuk satu minggu seharga 13.50pounds. Ini adalah pilihan paling murah karena untuk seminggu selanjutnya kami hanya memakai bis. Sedang kereta/tube beli secara terpisah. (Lihat posting sebelumnya : Kemping Kok di London )


Sesampai di BL tampak dari luar ah ....ngg suka arsitekturnya. Mungkin karena ngg terlalu berkarakter seperti bangunan lama. Dulu BL menjadi satu dengan British Museum sebelum renovasi besar2an oleh arsitek Sir Norman Foster hingga koleksi bukunya dipindah di tempat baru. Ada empat lantai dengan lounge yang lega. Dari pintu depan terlihat tempat duduk dimana-mana juga komputer untuk akses katalog. Di sebelah kiri adalah tempat untuk eksibisi dan shop.

Saya langsung menuju ke lantai ground untuk mendaftar. Disana saya menjelaskan tentang form pendaftaran yang belum ada balesan. Terpaksa saya bikin lamaran lagi dengan komputer berderet. Setelah ndaptar saya disuruh nunggu dipanggil sesuai no pendaftaran di komputer tadi. Tak lama saya dipanggil, seorang wanita muda sedikit gede dan cheerful menyapa. Ah seneng juga diajak ngobrol dengan riang. Intinya semacam inteview dan sedikit penjelasan tentang BL. Ruangan mana yang boleh diakses dengan kamera, dimana letak locker menitipkan barang. Dia memberi peta dan kartu anggota. Karena saya ngelamar sebagai pribadi (bukan researcher) saya hanya dapet 1 bulan. Tak apalah yang penting bisa masuk hari itu dan gratis lagi.

Saya mengagumi King's Library sebuah chamber dari gelas tahan api berisi buku2 yang jarang dan kuno. Chamber ini dari lantai satu hingga menyentuh lantai empat, terlihat transparan di kejauhan. Jadi semacam display buku yang begitu dijaga suhu dan kelembabannya. WOW ! Luarbiasa ! Chamber ini dirancang tahan api sehingga koleksi buku disana tidak akan musnah jika Library mengalami kebakaran.

Setelah itu saya naik satu lantai menuju 1st floor untuk menyimpan tas. Di BL ketika menuju ruang baca (Reading Room) hanya diperbolehkan membawa kertas, pensil (bukan pena) dan laptop. Ngg boleh bawa kamera kecuali tempat2 umum seperti ruang lounge, eksibisi, shop dan cafe. Saya dianjurkan ke bagian Science di lantai empat tapi saya milih ke ruang baca Asia Pasific and Africa Collection yang hanya berseberangan. Niat saya adalah mencari koleksi Indonesia. Ah ya....masuk ke ruang tak seberapa besar namun disini lengkap dengan berderet tempat duduk dengan lampu dan sandaran buku sendiri-sendiri. Wow....sekitar 10 orang dengan laptop sibuk mengamati dokumen berusia ratusan tahun di bawah lampu temaram.

Saya membantu rekan saya yang mencari dokumen tentang ekspedisi tentara Inggris di India. Daftar dokumen bisa diakses online dan dia hanya meminta nomor2 tertentu. Beberapa disimpan dalam slide film, sebagian dalam catatan dari kapten kapal di tahun 1700an. Dokumen itu berupa daftar panjang dalam bentuk buku yang diminta di bagian desk, kemudian menunggu diambilkan.

Dokumen itu akhirnya bisa diambil dan dibuka disimpan dalam kotak tebal untuk menjaga keutuhannya. Wahhh saya gemetar bisa megang dokumen begitu tua dan dalam kondisi baik. Terlihat serpihan sana sini tapi masih bisa terbaca dengan jelas. Kami mencari sebuah nama atau surat kematian seseorang. Tak ketemu...lagi2 meminta dokumen lain.


Puas mencari dokumen saya turun lagi ke lantai ground menuju ruang eksibisi. Oh ternyata lagi ada pameran Front Page : Celebrating 100 Years British Newspaper 1906 -2006. Tema Front Page sendiri sangat menarik karena menampilkan halaman depan suratkabar Inggris yang mempunyai nilai sejarah. Yang menarik adalah konsep interaktif newsroom. Disini ada ruangan dibuat seolah berada di kantor sebuah suratkabar terkemuka di inggris. Di deretan meja tersedia komputer yang berisi panduan untuk menjajal membuat halaman depan. Dari mulai menerima berita, menentukan mana yang layak, menentukan headlines, rapat redaksi, desain hingga ke cetak. Tak jauh dari situ terdapat ruang produksi berisi tiga buah plotter besar untuk mencetak.

Saya nyoba dua kali. Pertama sebagai reporter The Guardian -favorite koran saya, trus mencoba the Sun -koran tabloid yang terkenal dengan gossip dan berita bombastis seperti Pos Kota di Indonesia. Seru juga..karena dibatasi waktu terutama untuk menentukan pilihan dan harus tunduk pada tenggat waktu.

Ah saya kemudian pulang membawa oleh2 dua frontpage hasil bikinan sendiri. Pengalaman pertama di BL sungguh mengesankan.

Labels: ,

Thursday, July 13, 2006

The Making Of Everest


By Janna Emmel with Broughton Coburn
Terjemahan bebas : Ambar Briastuti

Mendaki diatas ketinggian 26,000 kaki walaupun dengan menggunakan botol oksigen adalah seperti berlari di treadmill dan bernafas dengan sebatang sedotan. Tubuh menjerit menuntut untuk balik kanan
Pimpinan Tim Ekspedisi Film Everest, David Breashers.


Inilah sebuah pesan yang bijaksana. Kita menyadari bahwa mendaki di “death zone” ketika tubuh secara perlahan merasakan kehausan akan oksigen. Ketika sebuah kesalahan bisa berakibat fatal, dan ketika udara dingin dan angin mengancam jari dan tangan. Namun diantara kondisi itu masih ada yang ingin mencoba menciptakan sejarah.

David Breashears, yang telah membuat film tentang gunung tertinggi di dunia sebanyak sembilan kali adalah seorang cinematographer dan sutradara Everest yakni sebuah film yang diproduksi MacGillivray Freeman Film bekerjasama dengan perusahaan Breashers Arcturus Motion Pictures. Breashears yang pernah mendaki Mt Everest sebanyak empat kali adalah orang Amerika pertama yang mencapai puncak dua kali dan orang pertama yang menyiarkan langsung gambar TV dari ketinggian 29,028 kaki. Professional, pantang menyerah dan berpikir positive, ia menggambarkan :

Mendaki Everest adalah sebuah tantangan, keindahan fisik, pergerakan dan irama. Dan juga tentang resiko. Anda akan belajar mengenal diri sendiri, belajar ketika anda harus meninggalkan kenyamanan dan kehangatan juga rutinitas sehari-hari. Anda belajar bagaimana menghadapi situasi yang mungkin membahayakan jiwa. Walau nantinya akan ada penghargaan atas usaha keras, kelelahan yang amat sangat dan keletihan luarbiasa dirasakan ketika bangun pagi akan hilang keesokan harinya. Dan aku merasakan tubuh makin kuat dibanding sehari sebelumnya.

Menurut keterangan para sherpa, penganut Budha-lah yang bermigrasi dari Tibet menuju Nepal 450 tahun yang lalu dan kemudian mendiami lembah panjang yang membentang antara selatan dan timur Mt Everest. Para sherpa meyebut gunung ini Chomolungma, Ibu Para Dewi di Bumi. Kemampuan mountaineering para sherpa yang legendaris adalah bukti nyata terhadap keberhasilan ekspedisi2 awal upaya menaklukkan Mt Everest.

Sekitar 35 sherpa membantu pembuatan edisi film lebar Everest : bertugas memasak di Base Camp, membawa peralatan kamera IMAX hingga ke puncak dan kemanapun. Bagi Breashears dan para sherpa, menelusuri crevasses yang dalam, mendaki tanjakan, mengangkat pecahan es adalah pekerjaan yang harus dilakukan.

Sebuah Gunung Impian

Ketika Greg MacGillivray produser 18 film format raksasa mendatangi Breashears tentang rencana membawa kamera IMAX menuju Mt. Everest, Breashears langsung menyatakan bahwa itu adalah hal yang tidak mungkin. Dengan berat 80 pounds (sekitar 40kg), kamera tidak bisa dibawa ke ketinggian dimana setiap ons berat dianggap sebagai satu kesempatan untuk bertahan hidup. Breashears mencoba meyakinkan MacGillivray bahwa untuk mengambil gambar dengan 35mm adalah format yang dianggap biasa. Mac Gillivray tidak menyerah :”Aspek rasio vertical dari format IMAX adalah sempurna untuk Everest. Ini harus dilakukan dengan format raksasa. Kita pasti bisa melakukannya.”

Dalam beberapa bulan di tahun 1994-1995, Breashears dan MacGillivray bekerja dengan teknisi IMAX Kevin Kowalchuk, Gord Harris dan anggota tim teknis untuk membuat sebuah kamera yang lebih kecil yang mampu bertahan dalam ektrem temperature dan kondisi di Himalaya.

Bagian logam dari kamera IMAX diganti dengan bahan plastic dan sabuk sintetis untuk memberikan fleksibilitas yang tinggi dalam temperature yang sangat dingin. Kamera baru tsb dengan berat 35 pound (hampir 18kg) bekerja dengan baterai sel lithium yang bisa tetap beroperasi dalam suhu dibawah beku. Tombol-tombolnya dibuat lebih besar sehingga tangan dengan kaos pelindung bisa mengoperasikan dengan mudah. Sebuah monopod digunakan untuk mengganti tripod yang berat.


Breashears memimpin sebuah ekspedisi untuk melakukan test kamera dengan menjelajahi Himalaya dan Basecamp hingga ketinggian 17,400 kaki pada musim semi tahun 1995. Ia kembali dengan hasil mengesankan; bahwa kamera bekerja tanpa ada hambatan berarti. Breashears dan MacGivillvray Freeman Film memulai perencanaan untuk ekspedisi film Mt Everest pada musim semi 1996.

Ketika Breashears mulai mengumpulkan anggota tim pendaki dan mengatur logistik untuk ekspedisi, MacGillivray Freeman Films (MFF) mempekerjakan co-writer Tim Cahill untuk bekerja dengn Steve Judson dalam pembuatan skrip film, MFF juga membawa para ilmuwan sebagai penasehat terdiri dari : ahli geologi, psikolog high-altitude, ahli di bidang budaya para sherpa dan sejarah mountaineering di Everest. Sebagai tambahan yakni tim yang akan membantu menghimpun data geologi Himalaya. Dengan menggunakan teknologi GPS (Global Positioning System), para ilmuwan akan mempelajari setiap pergerakan tektonik yang membentuk gunung tertinggi di dunia itu. Jajaran Himalaya terbentuk dari keping benua India mendesak masuk ke dalam keping Asia, sehingga puncak-puncak gunung di Himalaya terus bertambah tinggi ¼ inc setiap tahunnya. Para pendaki tersebut akan membantu para ilmuwan untuk memahami proses tsb dengan membawa pengukuran GPS hingga ke Everest.

Yakity Yak

Trekking sepanjang jalan menanjak dan sempit di Himalaya pada bulan Maret 1996, Judson mengaku : “Jangan sampai berdiri diantara seekor yak dan tebing curam!” Sebagai seorang co-writer/sutradara/produser Everest, Judson menceritakan tentang jalanan berbatu itu dengan Breashears, asisten kamera Brad Ohlund dari MFF dan Robert Schauer dari Austria bersama dengan tim pendaki yang terdiri dari 4 negara, para sherpa, dua ilmuwan penasehat, dua staf di basecamp dan sekitar sembilan puluh ekor binatang berbulu tebal bernama yak. Judson dan Ohlund membantu Breashears dan Schauer dengan pengalamannya di bidang sinematografi di film format besar sepanjang rute hingga Base Camp. Selebihnya para pendakilah yang akan melanjutkan tugas ini.

Lebih dari tiga ton barang berisi peralatan -250 beban muatan makanan, film dan alat-alat climbing- dibawa dengan menggunakan yak dan porter dari Lukla (9,000kaki). Perjalanan ini memakan waktu dua minggu karena curamnya medan dan perlunya mendaki dengan perlahan untuk menyesuaikan diri dengan sedikitnya oksigen dalam ketinggian. Ketika mereka tiba di Base Camp pada 3 April, ahli geofisika dan ilmuwan penasehat tim Roger Bilham mengatakan, ”Ketika duduk, kamu merasa normal…namun ketika beranjak …kamu bahkan tidak bisa membuat kalimat, hanya mungkin terdiri dari empat kata atau kurang …karena kamu sulit sekali bernafas."

Sepuluh tim ekspedisi lain mulai berdatangan di Everest Base Camp yang kemudian merubah tempat ini seperti sebuah kota kecil berpenghuni 300 orang. Tenda-tenda bertebaran dalam jarak satu mil diantara bebatuan yang tertutup salju dan es. Kondisi ini dirasa tidak biasa karena besarnya jumlah peserta dan para pendaki yang ingin menuju puncak Everest. Dua dari para pemimpin ekspedisi adalah seorang dari New Zealand bernama Rob Hall dan seorang Amerika bernama Scott Fischer adalah kawan baik Breashears dan Wakil pemimpin tim ekspedisi film Everest, Ed Viesturs.

Dalam sebulan selanjutnya, para pendaki mulai membawa makanan, peralatan dan oksigen menuju empat camp yang lebih tinggi. Ini dilakukan untuk menyesuaikan tubuh mereka dalam kondisi sedikit oksigen dan juga memperkuat ikatan kebersamaan, saling percaya antara anggota tim dan juga membangun kepercayaan diri. Jamling Tenzing Norgay, anak laki-laki dari Tenzing Norgay adalah pemimpin tim pendaki untuk tim Ekspedisi Film Everest. Ia berharap dengan mendaki gunung Everest sebagai bentuk penghormatan atas legenda ayahnya sebagai orang pertama yang mendaki gunung itu bersama Sir Edmund Hillary di tahun 1953. Araceli Segarra, pendaki muda yang antusias ini berharap menjadi wanita pertama dari Spanyol yang akan mampu menaklukan puncak Everest. Sumiyo Tsuzuki dari Jepang berharap akan menjadi wanita kedua dalam sejarah negaranya dalam pendakian Everest.

Sementara itu David dan Robert mencoba berbagai kesempatan untuk membuat film kapanpun mereka bisa. “Membuat film tentang Everest itu lebih berat daripada mendaki Everest,” begitu kesimpulan Breashears. “Pekerjaan tidak akan pernah selesai ; dari meeting di malam hari membicarakan rencana shooting, memasang film, membersihkan kamera, memperbaiki kamera, menulis daftar shooting, merekam dan mempersiapkan dialog. Selama waktu itu, dituntut untuk mencari shots yang bagus secara terus menerus, mencoba membuat keputusan yang tepat : apakah aman untuk berhenti disini? Apakah cukup pencahayaan? Apakah perintah saya membuat para anggota tim turun semangat? Dengan berhenti mengambil shot ini apakah kitta kehilangan cahaya, atau resiko bisakah mencapai camp ? Sejak awal kami telah sadar bahwa jika ini berhasil, ini akan menjadi salah satu pencapaian tersendiri bagi pembuatan film di Himalaya.”

Badai Mematikan

Tim Film Everest menurut rencana akan mencoba mendaki pada 9 Mei sambil menunggu di Camp II (21,300 kaki). Panjangnya jejak para pendaki menuju puncak hari itu 10 Mei akan menciptakan kemacetan yang sempat dikhawatirkan oleh Breashears dan Viesturs.” Turun dari tebing atas Everest adalah salah satu yang paling berbahaya dari pendakian itu sendiri. Kita harus mampu melewati para pendaki itu dalam perjalanan turun dari puncak. Kita harus melepas carabiners dari fixed-line dan memasangnya kembali. Ini berlangsung berturut-turut diantara orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan mountaineering. Mungkin saja para pendaki itu menginjak tali dan memotong tali secara tidak sengaja dengan crampon-nya. Atau menjatuhkan es dan bebatuan.”

Keputusan tim untuk menunggu terbukti adalah keputusan yang bijaksana. Pada 10 Mei, 23 pendaki dari tiga tim ekspedisi merayakan keberhasilannya di puncak. Namun begitu mereka turun, keberhasilan itu menjadi malapetaka ketika badai dasyat menerjang mereka. Hilang dalam kegelapan di “death zone” mencari jalan kembali menuju Camp IV di South Col, delapan orang hilang ditelan badai. Dua orang diantaranya adalah kawan Viesturs’s dan Breashers yakni Rob Hall dan Scott Fischer.

Makalu Gau dari Taiwan dan seorang Amerika Dr. Seaborn “Beck” Weathers mengalami frost bite yang sangat parah dan memerlukan pertolongan dari Camp IV. Sebuah tim ekspedisi untuk penyelamatan dibentuk di Camp II dan III. Viesturs dan Schauer mendaki hingga 25,000 kaki tempat dimana mereka harus menuntun Weathers turun selangkah demi selangkah. Viesturs memeganginya agar tidak jatuh sedangkan Schauer membantu menempatkan kaki Weathers di permukaan es. Para sherpa yang membantu Gau melakukan hal yang sama. Di Camp III, Breashears bergabung, menuntun Weathers turun dalam tebing sedalam 2,500kaki. Walaupun tim Film Everest membawa peralatan video, namun mereka memilih berkonsentrasi pada tindakan penyelamatan.

Ketika tim Everest Film mencapai Camp I dengan Gau dan Weathers, mereka menghadapi masalah besar : Khumbu Icefalls yang mematikan, sebuah bentukan blok es sebesar gedung bertingkat yang dapat terangkat tanpa ada peringatan lebih dulu. Banyak orang yang meninggal di Icefall, jatuh ke dalam crevasses yang dalam dan terperangkap oleh glasier yang bergerak menghimpitnya. Untuk membawa Weathers dan Gau hingga Base Camp, Viesteurs merenung, “Ini akan memerlukan upaya sehari semalam dan menempatkan banyak orang dalam resiko.” Ternyata doa itu terkabulkan ketika sebuah helicopter terbang dari Kathmandu menuju Camp I yang kemudian tercatat sebagai upaya penyelamatan dengan helicopter tertinggi dalam sejarah.

Para anggota tim Film Everest kembali ke Base Camp dalam kondisi capai dan shock. Judson yang baru saja kembali dari California membagikan cerita tentang kondisi tim, “Tragedi ini meninggalkan para pendaki dalam kondisi kecapaian baik fisik dan emosional. Mereka berduka; suplai oksigen yang ada di atas camp telah digunakan untuk tim penyelamat. Tidak ada yang akan menyalahkan jika mereka memilih jalan selamat. Namun kemudian mereka menemukan kekuatan baru, bergabung dengan tim kembali dan menuju puncak gunung. Sungguh ini butuh perjuangan.”

Kemauan untuk Sukses

Kembali ke gunung adalah sesungguhnya keputusan pribadi dari masing-masing anggota tim. Viesturs tidak menginginkan perasaan duka terus bergayut di gunung. Ia ingin mengingatkan pada dirinya sendiri dan orang lain bahwa mendaki Everest bisa dilakukan dengan aman. Segarra, yang telah memberikan waktu dan usaha penuh bagi ekspedisi memutuskan untuk mencoba mendaki puncak. Schauer sependapat, “Aku tidak pernah memikirkan akan kembali ke atas sana. Kita punya pekerjaan yang harus diselesaikan dan aku merasakan cuaca belum juga datang.” “Gunung adalah sebuah tempat menyimpan kecantikan,” Breshears menyimpulkan,” Walaupun segala usaha, tragedi dan kegagalan, kita tidak akan kembali mendaki gunung jika tidak untuk menikmati keindahannya.”

Dibutuhkan waktu dua hari bagi para sherpa untuk menambah stok botol oksigen di South Col. Pada tanggal 17 Mei anggot tim Film Everest meninggalkan Base Camp sebagai sebuah upaya akhir untuk memasang peralatan sains di High Camp. Dan jika cuaca mengijinkan mereka akan mencoba keberuntungan mendaki hingga puncak.

Kembali ke Death Zone


Pada 20 Mei, anggota tim menerima kabar menggembirakan bahwa gelombang jet bergerak menuju utara, menandakan awal periode tenang, atau udara cerah. Breashears menggambarkan rencana pendakian : “Pada pagi dini hari pada 23 Mei –sesaat setelah melewati tengah malam pada tanggal 22- kami meninggalkan High Camp menuju keatas. Empat sherpa akan membawa kamera, dua sherpa membawa botol oksigen untuk anggota tim dan dua botol untuk tambahan di Southeast Ridge untuk para pendaki yang kembali. Tidak ada sherpa yang membawa barang lebih dari 35pounds (19 kg).”Rencana tim adalah berada di puncak pada pukul 10 atau 11 siang dan kembali ke High Camp akan memberikan waktu beberapa jam sebelum malam. Tsuzuki yang berusaha menyembuhkan diri dari retak tulang iganya diminta untuk tetap berada di High Camp sebagai tenaga komunikasi dan penyelamatan.

Pada malam tanggal 22, Schauer nampak sedang sibuk menyiapkan diri. Di dalam tenda untuk tiga orang, penuh dengan alat memasak dan peralatan film, ia memasang empat film dan memeriksa lensa kamera. Dengan masker oksigen yang dikenakannnya maka pekerjaan seperti ini nampak kesulitan. Ketika ia melepas masker, ia hanya mampu bekerja dalam waktu 15 menit sebelum reaksi otot dan pergerakannya menjadi makin lambat.

Visteurs meninggalkan tim satu jam lebih awal yaitu sekitar 10malam. Perjalananan dalam salju sedalam lutut dan mendaki tanpa bantuan oksigen, ia berharap anggota tim lain akan segera menyusulnya. Walaupun jarak antar South Col dengan puncak hanya sekitar 1.5 mile, namun para pendaki harus melampui tanjakan dengan kecepatan 12kaki setiap menitnya.

Para anggota tim melewati tubuh Hall dan Fischer. “Menyaksikan mayat Rob Hall adalah hal terberat dalam proses pendakian,” kata Segarra,”Dia berada di tempat dimana kita memerlukan konsentrasi –bukannya tempat dimana kita membuat kesalahan.”

Sekitar pukul 10:55 pagi Viesteurs menyampaikan kabar ke Base Camp melalui radio, sembari memberi tahu bahwa ia dan Breashears terus berusaja semampunya. “Dari tempat kami berdiri, nampaknya semua menuju kebawah.” Jangbu Sherpa dan Lhakpa Dorje segera bergabung dengan mereka. Ed tidak mampu menunggu lebih lama lagi. Tanpa bantuan oksigen, tubuhnya menjadi dingin sehingga ia harus segera turun.

Pada pukul 11:35, Jamling, Araceli, Robert dan Sherpa Lhakpa Dorje, Thilen, Dorje dan Lhakpa Moktu mencapai puncak. Anggota tim film Everest membuat sejarah di dunia sinema dengan berada di puncak Mt Everest dengan kamera IMAX. Selama ini adalah kamera terbesar yang pernah mengambil gambar di tempat palng tinggi di dunia. Sambil menggambarkan saat-saat terpenting dalam perjalanan karirnya, Breashears mengganti film dengan mengisi magazine lagi tanpa memperhitungkan kemungkinan frostbite dengan tangan telanjang. Schauer yang pernah mendaki Mt Everest 18 tahun lalu menggambarkan,”Ketika aku mendengar suara kamera beroperasi dengan mulus, aku jadi lega. Ini adalah alasan kenapa kami berada di Mt Everest.” Untuk keseluruhan, anggota tim mengambil gambar lebih dari tiga menit di puncak dan tebing. Sebuah pencapaian luar biasa.

Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan yang dialami oleh Jamling Tenzing Norgay :
Disinilah tempat dimana ayahku berdiri 43 tahun yang lalu. Aku menangis bahagia sembari melihat sekeliling dan menelangkupkan tanganku sembari berucap terima kasih kepada Chomolungma

Bagi Breashears, hari bahagia tidak akan lengkap jika semua anggota tim belum kembali ke High Camp. “Sebagai pemimpin dan sutradara, aku berada di puncak dalam situasi siaga karena kami tahu dengan pasti orang-orang yang berada disini kurang dari dua minggu lalu tidak mampu turun ke bawah dengan selamat.”

Para anggota tim film berhasil mencapai puncak dan juga berhasil memasang stasiun pengamat dengan pengukuran GPS untuk Bilham dalam ketinggian 26,000kaki. Para ahli geologi yang menjadi penasehat tim bahkan meyakinkan tim untuk membawa pulang contoh batuan yang berasal dari ketinggian tsb.

Setelah kembali ke High Camp, Segarra menulis dalam jurnalnya,”Aku kembali dan memandang ke atas gunung. Ia berdiri dengan cantik dan gagah, sebuah aura kebaikan mengelilingi gunung itu, atau mungkin rasa kedamaian yang menyelimutinya dengan kulit saljunya.”

IMAX and IMAX experience are registered trademarks of Imax Corporation

Further reading :
  1. Everest : Mountain Without Mercy by Broughton Coburn and Tim Cahill
  2. Touching My Father's Soul : In The Footsteps of Tenzing Norgay by Jamling Tenzing Norgay and Broughton Coburn
  3. The Climb : Tragic Ambition on Everest by Anatoli Boukreev and G Weston DeWalt
  4. Into Thin Air : Personal Account of the Everest Disaster by Jon Krakauer

Pictures sources :
  • Amazon.co.uk for the DVD series
  • Classic.Mountainzone.com for the Imax Camera
  • Edviestur.com for his photos after shot in the summit

Labels:

Tuesday, July 11, 2006

My New Daypack : Berghaus III 25


Saya ganti daypack karena tas saya yang lama tidak ada waist band (pengait pinggang) yang nyaman. Padahal itu dirancang untuk daypack ketika hiking dan walking dengan membawa barang yang makin banyak. Akibatnya bahu saya sakit semua dan punggung serasa digebukin.

Karena itu syarat utama untuk yang baru ini adalah enak bawanya, waistband cukup gede, jarak antar leher dan jatuh di punggung ngg terlalu panjang. Syarat sekunder lainnya adalah bisa muat untuk laptop *jadi inget ke Ujung Kulon dgn laptop dibungkus handuk sblm masuk rucksack*

Atas saran pecinta Berghaus saya memilih ini. Alasan utama karena Freeflow system yang merupakan konsep baru desain backpack. Bodi backpack dibuat tidak menyentuh punggung namun dibuat semacam jala yang kuat untuk memberi ruang antara. Sirkulasi di punggung ini yang banyak dikeluhkan terutama jika kita memproduksi keringat banyak. Seringkali jika dipanggul untuk beberapa jam punggung akan basah kuyub terlebih jika kita climbing di daerah panas.

Seri yang beredar di pasaran skrg adalah Freeflow III dan seri sebelumnya. Untuk kapasitas saya milih 25 liter saja wong hanya untuk sehari dua. Tapi walau begitu dilengkapi internal H2O atau kantong untuk mengisi air platypus berikut jalur selang yang dibuat linier dengan shoulder straps (pengait bahu). Fasilitas ini biasanya hanya terdapat di tas para pesepeda dengan bentuk lebih kecil.

Satu hal lagi adalah adanya pengait untuk pole (tongkat jalan) hiking di dua sisi. Jadi ngg perlu dikaitkan dengan tali. Ada dua side pocket yang buat saya sangat bermanfaat, yakni naruh barang2 kecil yang langsung ambil tanpa membuka daypack.

Chest harnest semacam pengait di dada agak sedikit menganggu untuk cewek, tapi Berghaus mendesain lumayan benar untuk jarak antara atas dan bawah. Feature ini agak tidak biasa karena untuk chest harnest hanya terdapat di rucksack kapasitas menengah dan besar >40liter Entahlah mungkin dipikir agar ngg membuat tas mencang-mencong klo dipake.

Tentang waist band di pinggang desainnya agak aneh. Ini dibuat bukan dengan 3 gigi pengait seperti halnya tas2 lain, tapi dibuat dengan tanpa gigi, dimasukkan seperti ikat pinggang. Saya merasa diuntungkan karena seringkali saya ngg bisa liat waist band dan mengikat karena faktor gendut...*ngg bisa liat perut sendiri* akibatnya saya ngg bisa mengaitkan dalam situasi gelap. Dengan rancangan baru ini serasa lebih natural dengan hanya meraba tanpa perlu memastikan ketiga gigi masuk semua.


Fasilitas lain seperti raincoat dan saku di penutup rasanya sudah menjadi kewajiban untuk rucksack. Jadi bukan hal istimewa lagi.

Harga di pasaran beragam, tapi saya dapet 40pounds di sebuah toko outdoor, sedang di internet harga termasuk ongkos kirim + tax bisa diatas 42pounds. He he ini dari hasil nabung dulu....

Labels: ,

Tuesday, July 4, 2006

Streets of London (part 1b)


Satu hal yang saya benci dan suka adalah jalanan di London. Benci karena begitu sibuknya dengan lalulintas berbagai macam kendaraan. Walaupun sistem-nya sudah cukup bagus tapi bukan berarti tidak ada kemacetan. Di London kemacetan adalah biasa, karena itu si walikota Ken Livingstone sejak 2001 mulai menerapkan Congestion Charge yakni kendaraan yang terjebak di jalan akan dikenai denda. Hiksss..

Yang saya suka adalah begitu tertatanya kota hingga memudahkan visitor untuk menjelajahi. Peta ada dimana-mana, pusat atraksi bisa dinikmati sembari jalan, terlihat pola yang jelas dari perencanaan tata kota yang disusun beratus tahun silam.

Minggu lalu saya sempatkan eksperiment street photography yakni memotret di jalanan. Maunya sih mem-foto orang, tapi untuk satu ini saya musti belajar banyak. Kebanyakan foto diambil sembari naik bis double decker. Saya tinggal duduk manis di depan menghadap kaca, sedang lainnya diambil ketika jalan. Ada beberapa yang unik seperti becak di London, anjuran untuk memakai sepeda ketimbang mobil dan sebuah peringatan di tembok : 'I Know I Have Lost' disebuah jalanan pinggiran sungai Thames ketika hendak menuju Shakeaspeare Globe. Dulu ini semacam jalan tembus tapi semenjak tiga tahun silam disulap menjadi kompleks perkantoran.

Taksi dan telephone box juga menjadi ciri khas London. Taksi tradisional ini biasanya berwarna hitam, tapi saya menemukan bermacam warna lengkap dengan ads di tubuhnya. Red telephone box dengan bentuk kotak unik adalah hasil design kompetisi di tahun 1921 dan tetap digunakan di City of London. Uniknya ada toilet di jalanan berderet dengan telephone untuk mengakomodasi pengunjung di musim turis. Cukup bayar koin dan pencet kemudian pintu terbuka. Udah tinggal masuk dan do your nature's call.

Saya tiba di London dengan kereta di Waterloo Train Station yang juga merupakan pintu gerbang Eurostar -kereta cepat menuju Eropa mainland (France, Belgium) melalui English Channel. Jadi kebayang sibuknya terutama melayani para komuter baik dari UK maupun Eropa.

Untuk lengkapnya silakan tengok disini : Multiply

Labels: , , ,

Monday, July 3, 2006

Kemping kok di London (part 1a)

Iyah ini pertanyaan yang diajukan seorang kawan. Percaya boleh tidak ini adalah alternatif murah untuk akomodasi di London. Inggris saat ini masih termahal untuk biaya penginapan biarpun itu sekelas B&B (bed n breakfast) atau klas melati ala backpacker. Paling tidak perkepala dihitung 15-40pounds.

Dengan kemping bisa menghemat biaya hingga 30-50%. Untuk lokasi2 kemping di negara2 EU jalinan per-kempingan ini udah tertata bagus. Sarana untuk kemping pun lengkap termasuk shower, listrik, air minum dll.

Catatan : kemping begini hanya nyaman di musim panas (Juni-Agustus) karena setelah itu cuaca tidak memungkinkan. Berikut tips :

1. booking dulu via email atau telepon. Ada beberapa lokasi silakan
liat di http://www.londonnet.co.uk/ln/guide/accomm/budget_camp.html
Kalau bisa booking jauh2 hari, soalnya rame. Untung ada Piala Dunia jadi minggu lalu ngg terlalu penuh.

2. Bawa peralatan kemping spt biasa : terutama untuk masak dan jalan. Kalau bisa ada makanan bawa aja, karena semua produk amat mahal disana.

3. Kalau ada kendaraan (biar pinjaman) bawa aja untuk memudahkan bawa barang2. Campsite memperbolehkan kendaraan masuk lokasi.

4. Tarip dihitung per kepala per hari, tapi bisa dapet diskon klo nginep seminggu. Tanyain aja penawarannya.

5. Sebagian besar lokasi kemping sekitar 20menit ngebis atau kereta
(Tube -kereta underground), jadi pelajari alternatif transportasi selama disana. Paling murah adalah ngebis (pilih beli kartu bis untuk seminggu). Saya perhatikan London mempunyai sistem ticketing yang memusingkan. Jadi pilih aja ngebis lebih nyaman kok.

6. Nah untuk hemat lagi pergi ke lokasi2 menarik di London yang ngg bayar alias FREE seperti Museum (British Museum, Natural History Museum, Science Museum), Taman (Regent, Hyde, St James Parks), Cathedral (St Paul) dan Istana (Buckingham -tapi cuma sampe pintu depan aja).

7. Siapkan peta (gratis dimana-mana) dan fisik karena obyek2 menarik tadi lebih asyik ditelusuri dengan jalan kaki.

8. Untuk lebih hemat lagi : bawa makanan dari rumah, jangan beli di resto atau cafe. Makan di tempat terbuka bukan aib disana. Cuek ajah.

Labels: ,