Thursday, May 31, 2007

Smarter Way to Jakarta


Valuair adalah penerbangan budget langganan saya kalau mudik ke Jakarta (diralat : sebenarnya Jogja). Dulu sebelum terkenal karena murah Valuair hanya sekali return Sin-Jkt. Tapi semenjak diakusisi oleh Jetstar Asia, frekuensi penerbangannya makin banyak. Bahkan mulai membuka rute baru ke Indonesia sebagai hasil warisan merger. Valuair selalu membanggakan diri sebagai maskapai yang berbeda dari pesaing-pesaingnya.

Seperti penerbangan budget lain, Valuair memakai sistem online untuk booking. Yah standar aja. Saat ini sistem bookingnya jadi satu dengan website Jetstar Asia. Masukkan tanggal bepergian, pilih jenis tiket -dari yang paling murah (Jetsaver) hingga yang fleksible (JetFlex). Namun jangan salah, karena Valuair tetap memakai logo dan pesawat sendiri. Namanya dalam sistem timetable di bandara-pun tetap Valuair. Untuk Indonesia hanya Jakarta, Surabaya dan Denpasar yang bisa dilalui jalur penerbangan ini. Itupun semuanya menuju Singapura. Nah apa sih yang membedakan Valuair dengan yang lain? Airasia misalnya.

Yang jelas adalah dikasih makan. He he he....jadi jangan kuatir kelaparan. Dulu biasanya sih nasi lemak plus tumis ayam. Lumayanlah mengganjal perut. Minum juga jus atau air putih. Teh dan kopi juga ada sesuai permintaan. Layanan ini memang sangat terasa di tengah era non-food flight alias kudu beli onboard. Mahal euy!

Masih ingat kalau dengan Airasia kita harus rebutan ngantri sebelum menuju pesawat hanya untuk mendapatkan tempat duduk? Nah di Valuair ngg kejadian deh. Walau pesawatnya lumayan kecil Boeing 737 tapi untuk urusan tempat duduk disesuaikan dengan check-in.

Beberapa minggu lalu Valuair bahkan memperkenalkan check-in online termasuk memilih tempat duduk sendiri. Sistem check-in online ini memang baru diperkenalkan Singapore Airlines (SIA) sekitar 1.5 tahun lalu. Nyatanya sekarang budget airlines mulai melirik fasilitas ini.
Ketika mencoba, semua proses berjalan lancar. Yakin banget bakalan dapet tempat duduk inceran. Eh sewaktu di Changi malah dicuekin. Mbak yang di frontdesk malah bilang, itu cuma akal2an doang. Entahlah, nyatanya ketika saya balik ke Singapura saya duduk di tempat yang saya pesan sesuai dengan check-in online. Dibanding Xpress Boarding-nya Airasia yang harus bayar fee untuk memilih tempat duduk, nampaknya Valuair tidak tergoda untuk melakukan hal yang sama.

Salah satu feature baru yang saya rasa berguna banget adalah kita bisa merubah jadwal tanpa melalui Call Centre. Nah apakah ini udah terbukti? saya belum tahu. Nyatanya untuk penambahan/penggantian masih bisa dimungkinkan. Valuair akan mengirimkan update itinerary dalam format pdf. Penambahan atau penggantian itu bisa dilakukan hanya dengan memasukkan nomor booking reference dan nomor tiket. Sistem akan memanggil otomatis dan update setiap kali melakukan perubahan. Sepertinya ini hanya bisa dilakukan bagi pembeli tiket dengan kartu kredit. Untuk selain itu sepertinya harus melakukan check-in manual.

Ohya biasanya Valuair ini depart dari Terminal 1 (ralat : di Terminal 2) Sukarno Hatta di Gate 1 melalui D6, sedang di Changi berangkat dari Terminal 1 pintu D37. Karena Valuair dianggap penerbangan asal Singapura ia dianugrahi tempat Terminal 1 bukan di Terminal Budget seperti kawan2nya.

Secara keseluruhan saya ngg ada komplain mendasar dengan Valuair. Ketika ke Jakarta tanggal 16 Mei lalu saya sempat mengkhawatirkan harga naik karena berbarengan libur panjang. Nyatanya harga teteup saja. Waktu itu saya mengeluarkan S$177 return, bandingkan dengan Garuda yang membengkak menjadi S$534. Uedian…

Labels: , , ,

Wednesday, May 30, 2007

Pasar Beringharjo dan Klewer : The Art of Bargaining


Mungkin bargaining atau proses tawar menawar ketika belanja sekarang menjadi sesuatu yang tidak biasa. Dominasi mall dan boutique menjadikan harga menjadi fixed. Pembeli dipaksa menerima harga yang ditetapkan penjual. Anehnya sebagai pembeli kita selalu berasumsi bahwa penjual cukup tahu diri mengambil untung dari kita.

Tapi jika dipasar, muncul ketakutan. Jangan-jangan yang jual nipu saya, jangan-jangan barangnya palsu, jangan-jangan...

Batik tulis misalnya. Di butik sehelai batik dilukis tangan pola Jogja atau Surakarta dihargai minimal 900ribu. Belum jika pola itu sangat langka. Seperti Sidamukti Jogja, jenis ini lumayan susah didapat. Tapi jika di pasar tradisional seperti Klewer dan Beringharjo harga bisa jadi 500ribu.

Sedang batik printing dari Pekalongan yang dijual di Klewer, harga pertama adalah 60ribu. Begitu deal, bisa jadi harga cuma 25ribu saja. Kok bisa?

Seni menawar adalah gabungan dari knowledge, persuasif dan juga body language. Beberapa taktik kuno yang masih dianut adalah : banting harga separuh dan ditinggal. Seolah-olah kita ngg butuh. Taktik lain adalah mengajak ngobrol sana sini sebelum pada pertanyaan harga. Yang ini tidak terlalu berhasil jika kita ngg dibekali knowledge bahasa lokal dan basic tentang batik.

Bisa berbahasa jawa bukan berarti jaminan bargaining sukses. Memang memudahkan tapi kembali ke keahlian persuasif. Baik si pembeli dan penjual. Jika kita tipe orang yang mudah percaya, bisa jadi kecewa karena nawar kurang agresif. Kalau kita tipe 'gemi setiti ngati-ati' alias rada pelit, bisa jadi proses menawar menjadi alot dan seru. 1000rupiah menjadi sangat berharga di level ini.

Nah pertanyaan apakah hanya perempuan yang punya keahlian bargaining ini? jawabnya tidak. Argumennya sederhana saja. Yang sering ke pasar dan belanja kan perempuan, ya jelas to kalau mereka ini lebih terbiasa. Experience lapangan itu betul2 sangat berguna. Semakin sering menawar semakin terasah kemampuan bargaining. Itu loh kemampuan persuasif. Ada seseorang yang punya talenta 'tebar pesona' sehingga penjual pun bisa takluk dengan mudah.

Body language itu lebih ke personal preference. Melihat orang lain dari sisi karakter. Kalau orang jawa bilang sih 'ilmu titen' atau mengenali karakter orang per orang. Dalam sekian menit pertama, sebagai pembeli kita harus membangun karakter si penjual. Apakah dia gampang ditawar, terlalu ngegombal, atau mencoba menipu kita.

Bisa jadi diakhir tawar menawar tidak ada hukum ekonomi yang fixed. Ada faktor X yang bisa mengubah skenario. Misalnya faktor kasihan atau penghargaan. Sudah tahu harganya 8ribu kok minta 10ribu dikasih. Iyah, karena si penjual seorang ibu setengah baya yang menerangkan dengan sabar berbagai jenis batik, lengkap dengan pola2nya. Menggelar dagangan sembari chatting dengan bahasa jawa halus yang jarang didengar lagi.

Catatan :
kedua pasar ini tidak ada ( tidak direkomendasikan) Lonely Planet.
  • Pasar Beringharjo di jalan Malioboro sisi selatan seberang Gedung Agung
  • Pasar Klewer di Jalan Secoyudan dekat Kraton Surakarta, atau sisi selatan jalan arteri Slamet Riyadi

Labels: ,

Friday, May 25, 2007

Kenangan dengan para penakluk Everest wannabe















Diambil dari milis pangrango

Catatan : kisah episode ini tak terlupakan karena membuat saya makin sadar bahwa saya tidak ingin mendaki Everest. Buat Jo dkk teteup semangat yah...I will support you guys!
-------------------------

Ketika kedua kawan saya terbaring di kamar tidur sebelah setelah trek panjang menuju Pheriche (4200m), saya memilih menuju ruang makan di lodge. Alasannya karena ngg bisa tidur dan kepala mulai senut2 akibat penyakit ketinggian. Minum teh mungkin bisa menyembuhkan sedikit, pikir saya.

Ruang makan adalah berukuran sekitar 5x6m dengan dinding kaca dan kayu yang cukup menahan dinginnya hujan salju yang menerpa kami ketika mencapai penginapan ini. Dinding dilengkapi bangku mengitari ruang yang dirancang sebagai tempat duduk dan sekaligus tempat tidur. Karpet buatan para suku nomaden di Himalaya terlihat indah dengan pola warna-warni. Poster bertebaran disana-sini berisi ekspedisi2 Everest atau deretan pegunungan sekitarnya. Dilengkapi foto gunung dan foto pendaki legendaris seperti Messner atau David Breashers.

Dingin menusuk tulang membuat saya memutuskan mendekatkan diri didepan chimni (penghangat seperti tungku dari besi dengan cerobong diarahkan ke atap). Bau tajam dari kotoran binatang yak yang menjadi bahan bakarnya menyesakkan dada. Tapi semua terkalahkan oleh kebutuhan akan kehangatan (uh ah uh...jangan ngeres yah..).

Ternyata chimni sudah dilingkari beberapa orang disana. Saya beranikan duduk manis. Terasa jengah....karena mungkin muka saya yang bertampang asia sendirian dan juga seorang perempuan. Mungkin lebih bisa dikatagorikan sebagai sherpani ketimbang trekker. Ram sang guide dan Pram sang porter nampak mojok dengan sesama genk porter-nya. Ram memberikan kursi untuk saya duduki didekat chimni. Suasana masih tetap ramai namun akrab.


Cowok manis disamping saya menyapa (ampun..hiks manis tenan). Ujung punya ujung ternyata mereka ini adalah calon penakluk Everest. Ada 7 orang dalam 1 tim yang diorganisir Asian Trekking. Ah ya...dimana yah nama ini pernah terdengar? halo...inget ngga ? saya membongkar memori sambil menekan tombol search dengan kata kunci "asian trekking" di otak ini.

Loh itu kan organiser yang kemaren menimbulkan perguncangan jagad dunia pergunungan (sori bleem ngg ada yang bisa silat disana). Itu loh inget David Sharp yang mati sendirian di Everest, diabaikan oleh kawan2 pendaki pada tepat Mei 2006. Cerita obrolan bergulir tentang tim siapa saja yang sekarang berusaha muncak terutama dari sisi Nepal. Biasalah saling ngrasani sembari cela-celaan.

Tim pertama kena korban adalah Tim Korea. Tahun ini Korea menempatkan tim dalam jumlah besar. Bahkan ada tim solo dan tim dari sisi selatan -yang 2 orang pendakinya tewas 16 Mei 2007 lalu dari ketinggian 8300m. Konyol juga mereka klo mencela, saya senyum kecut saja sambil gumam. Oh ternyata ya sami mawon klo urusan cela-mencela. Bedanya joke mereka
lebih segar dan tidak personal.

Tak lama seorang Nepal setengah baya menghampiri. Ia memilih duduk disamping saya. Saya menyapa dan si cowok cakep tadi memperkenalkan nya sebagai Pertemba Sherpa sang basecamp manager untuk Asian Trekking. Haduh.... kok kebetulan banget. Batin saya : wah Nanung pasti nyesel terbaring di kehangatan sleeping bag, sedang saya ditemani seorang sherpa legendaris. Disini sembari ngobrol apa saja.

Ia diperkenalkan sebagai sherpa senior yang pernah membantu tim British pimpinan Sir Christopher Bonnington ketika mencoba sisi selatan Everset di tahun 1970an. Hah...saya mah belum berbentuk embrio saat itu. Bapak sepuh ini dah karatan banget. Heibatnya beliau masih gesit dan terlihat awet muda.

Kesempatan ini saya gunakan banyak bertanya tentang ekspedisi2 Everest sebelumnya terutama era 70-80an yang luput dari detail di buku2 yang saya baca. Tentang kematian Peter Boardman -anggota termuda tim British ketika mencoba membuka rute baru Utara-gigir Utara Timur tahun 1982. Namanya diabadikan bersama Joe Tasker sebagai nama award untuk penulisan literature buku tentang mountaineering dalam event Kendal Mountaineering Festival yang dilaksanakan tiap musim gugur di Kendal, Lake District UK (asli! namanya emang sama dengan Kendal di jateng).

Satu kejutan saya adalah salah satu pendaki dari tim Asian Trekking adalah dari Malaysia. Sayangnya ia saat itu sudah berada di Base Camp dalam rangka aklimatisasi. Sedang keenam rekannya masih terdampar di Pheriche, di ruang makan ini.


Mendengar cerita mereka dan dedikasi untuk menaklukan Everest bukannya makin mengobarkan semangat gunung saya. Malah sebaliknya. Loh! Mereka harus menyisihkan waktu 1 tahun berlatih full time, meninggalkan pekerjaan dan keluarga. Dengan resiko bahwa puncak tidak teraih. Pertaruhannya terlalu besar. Saya mah pendaki lemah dengkul begini mana kuat. Kuat tenaga dan kuat dana maksudnya.

Malam itu tak terlupa. Bukan saja bertemu para calon pendaki dan kisah mereka. Juga menyadarkan bahwa puncak ada 2 macam. Puncak fisik dan puncak batin. Bahwa puncak adalah batas kemampuan sendiri. Buat saya puncak saya bukanlah di puncak Everest.

Kepala pusing bukannya sembuh. Chiya dengan susu (teh assam yang kental made in nepal) berkali-kali ditenggak. Semangat makan menurun drastis. Hanya sesendok dua, sedang sisanya dibiarkan saja. Gini toh gejala sakit ketinggian itu. Ini gejala pertama setelah melewati batas magic 3500m. Ketinggian ini adalah limit kemampuan manusia untuk adaptasi dengan kondisi yang makin ektrem.

Mungkin ini adalah 'puncak' saya.

Labels: , ,

Tuesday, May 8, 2007

Mencoba Apple TV (gratis)


Emangnya Apple buka stasiun TV? he he he ...bukan. Sebenarnya konsep Apple TV tidak jauh beda dengan Mac Mini yang didesain untuk Home Theatre. Terlebih Apple TV sebenarnya Mac Mini yang menghubungkan wireless antara TV (Widescreen atau HD -High Definition) dengan iTunes. Yah beda dikitlah....

Saya sendiri sudah akrab dengan video podcast di iTunes lewat Apple Mac atau MacBook. Jadi rasanya bukan hal yang baru. Setelah ditilik untuk langganan (subcribe) program2 acara free di Apple TV juga kebanyakan udah saya kenal sebelumnya seperti BBC ten o'clock news, Mac Break, Nat Geo atau Effective Edge TV (tentang snowboarding). Program disana juga hanya dibawah 10 menit tapi dengan kualitas mengagumkan. Lumayanlah.

Sepertinya ini strategi pemasaran yang dikemas Apple untuk lebih menjual Mac Mini versi baru. Saya sendiri baru tahu kalau di MacBook saya ada Front Row yang dioperasikan dengan remote. Gara2 sering dunlud video begini membuat MacBook saya menggos-menggos. Terpaksa saya alihkan ke external HD. Ini ternyata ngefek terhadap tampilan di Front Row. Saya harus bolak-balik ke iTunes untuk membuka sebelum preview. Melelahkan sekali. Sepertinya perlu membuat sistem storing yang lebih baik.


Untuk penggemar Nat Geo di versi video podcast udah muncul puluhan, tapi di Apple TV sepertinya hanya Wild Chronicles : program tentang mengikuti ekpedisi para peneliti. Keduanya sangat mengasyikkan, tapi yang terakhir lebih bagus resolusi untuk full preview.

Caranya yang pengen subscribe :
Syaratnya nyambung internet rada banter, sediakan ruangan cukup untuk nyimpan, punya iTunes > buka di Apple TV > browsing 3 halaman program yang tersedia. Mirip banget dengan subscribe podcast/video podcast. Jika preview dengan Front Row hasil dunlud akan muncul di Video sebagai Video Podcasting.

Dengan ini saya bisa mengucapkan selamat tinggal dengan stasiun sinetron ....

Another suggestion program :
NASA
Art History in One Minute

Labels: ,

Monday, May 7, 2007

Windows Vista Walpaper : Hamad Darwis



Halah iyah saya memang bukan pemakai Window apalagi merk Vista itu. Dulu saya ngiler liat wallpaper di komputer saya ini yang berisi kulit macan, setitik air di ilalang, atau gelombang laut meneduhkan. Tapi ternyata Window mengalahkannya dengan menampilkan karya Hamad Darwis seorang pekerja rumahsakit di Kuwait sana. Hah? kok bisa. Ah ya kalau dilihat karyanya di Flickr barulah bisa memahami kenapa di tahun 2005 ia mendapatkan komisi untuk menghasilkan karya landscape yang sekarang menjadi WP (Wallpaper) Window Vista.

Wawancara tentang bagaimana ia mendapatkan job dan tugas photgraphy di lapangan disimak disini. Sedang karya2 nya bisa didunlud gratis disini untuk mengisi layar Window anda.

Belajar dari karyanya bukan aja tambah ngiler tapi juga membuat makin semangat menjelajah lagi, Kemana ya?

Labels: , ,

Wednesday, May 2, 2007

Pay or not to pay


Sadhu at the temple Pashupatinath, Kathmandu

The biggest challenge for me about taking picture of sadhu is not to give him money. I know that It been commercialized of taking pictures of sadhus in the temple anywhere in Nepal and India. He asked money for the 'service' but my guide said don't give anything to him. He supposed to leave the world's greeds and passions as part of living in rough to close to the God.

Labels: , ,