Friday, October 23, 2015

Belajar Memanjat Tebing Es di Glasier Franz Josef




Ini adalah kesempatan kedua berlatih di tebing es setelah menjajal di tebing buatan Skotlandia. Kesempatan itu  saya peroleh ketika backpacking ke Selandia Baru melewati dua titik  glasier kenamaan : Franz Josef Glacier dan Fox Glacier. Yang membuat  sedikit beda adalah lokasi manjat berada di luar. Jadi lebih alami karena menggunakan dinding glasier bukan raksasa freezer buatan di Ice Factor. Saya pilih Franz Josef untuk  climbing sedangkan di Fox saya dedikasikan untuk dinikmati dari udara sembari mencicip Mt. Cook/Aoraki.

Di dunia ice climbing, manjat glacier ini nomor dua dalam  kepopulerannya. Yang paling diincar adalah memanjat air terjun yang  membeku. Menurut si ahli es, air terjun membeku itu mempunyai kadar  kekerasan struktur es yang lebih solid. Ini karena proses pembekuan instan membuatnya jadi super keras dibanding glacier yang terbentuk  dari salju yang padat. Katanya tantangan ice climbing di air terjun  itu lebih okeh. Itulah kenapa surga ice climbing tipe air terjun ini  adalah di negara Canada dimana air beku lumayan banyak.

Franz Josef Glacier letaknya di pegunungan alpen pulau Selatan di  Westland National Park. Karena musim panas, membuat booking jadi  antri. (Notes : musim di NZ terbalik dengan benua di sebelah utara  hemisphere so Desember adalah puncak musim panas). Kebanyakan memilih  hiking atau walking mencicip seperti apa rasanya di es. Untunglah  penggemar ice climbing ini bisa diitung. Pas banget bisa dapat slot  melalui telepon sehari sebelumnya.

Saya diminta datang pagi-pagi ke bagian rental alat. Disini diminta  memilih sepatu boots, helm, jacket goretex, crampon, sepasang kampak  es, kaos tangan lantas dimasukkan dalam tas ransel yang sama. Jadi  bener2 seragam deh. Ohya kaos kaki dari bahan wool dan celana tahan  air juga disediakan tapi karena saya bawa sendiri jadi ngga saya ambil. Karena bakal seharian, disarankan bawa bekal makanan dan minuman.

Hari itu ada 8 orang peserta dengan guide 2 orang. Hampir semua  pernah memanjat, tapi ada yang belum pernah memanjat di es. Ada tiga  orang cewek, termasuk saya. Sisanya para cowok yang terlihat ngga  sabar. Kami dibawa ke lokasi Franz Josef Glacier dengan mobil colt.  Begitu tiba di parkiran, kami memulai trek menuju mulut glacier. Yah jangan dibayangkan jalan biasa, soalnya kami semua sudah memakai  sepatu boots climbing. Jadi jalan seperti robot dengan bawaan lumayan.

Selama perjalanan kami melewati sungai yang terjadi karena lelehan  glasier. Disana-sini bisa dilihat belahan es yang masih solid,  terkadang mengalir bersama air sungai. Glasier Franz Josef terbentuk  2 juta tahun yang lalu ketika pegunungan alps terkubur oleh lapisan  es setinggi 100km. Ketika era lelehan jaman es, gerusan proses  mencairnya es ini membentuk lembah berukuran U dan puncak2 tinggi  (fjord) dengan kedalaman hingga 500m dan menciptakan danau tampungan  air lelehan tadi.




Franz Josef sendiri panjangnya 12km dengan lekukan yang mempesona.  Menurut papan penjelasan disana, glasier ini mengalami lelehan  besar-besaran tahun 1940an dan tahun 1980an. Apakah ini disebabkan  pemanasan global? Well, banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan lelehan. Beberapa diataranya adalah banyaknya salju yang menambah beban diatas, suhu di sekitar, juga aliran sungai yang berada di bawah. Berjalan di lembah ini lumayan capek. Saya agak terseok-seok. Maklum,  tubuh saya paling kecil dan jarak langkah pasti lebih pendek. Belum lagi batu-batu terjal agak menyulitkan dengan sepatu plastik berat  begini.

Begitu mendekati kaki glasier, kami berhenti. Tak jauh dari sini saya  bisa melihat `terminal face' yakni gua yang terbentuk karena lelehan  horizontal. Ketika mendekat saya bisa mendengar tetesan dan deru air.  Ngeri juga melihat lobang dengan warna biru kelam diantara butiran  pasir. Besarnya seukuran rumah. Posisinya yang berbahaya, membuat  para pengunjung ngga boleh terlalu dekat. Dindingnya bisa runtuh  setiap saat secara tiba-tiba.

Di mulut glasier ini kami diminta memakai crampon untuk melalui es  dan salju. Saya juga menyaksikan beberapa orang guides yang sedang  meratakan jalur dengan kampak es. Tampak mereka bekerja keras  mengayun kapak, menghujam dengan keras untuk membuat jalan. Bayangkan  saja, glasier ini tiap hari meleleh, hingga tiap hari harus memperbaiki jalur agar aman diinjak oleh pengunjung macam saya ini. Tak jarang jalur lama jadi menghilang dan terpaksa membuat cabangan  baru. Jalur itu bisa dibuat seperti tangga, tapi sebagian besar cuma  jejak langkah. Kanan kiri terkadang lubang glasier yang entah  berakhir dimana. Saya bisa mendengar gerusan air dengan suara yang  menyeramkan.

Franz Josef Glacier Guides http://www.franzjosefglacier.com/, South Island, New Zealand, December 2007. Full day ice climbing. 
(tulisan ini muncul di milis Indobackpacker Maret 2009)


Labels: ,

2 Comments:

At January 17, 2016 at 10:40 PM , Blogger Zulaikhaenda said...

Keren banget, lebih ekstrim panjat tebing es apa tebing biasa yaa?

 
At November 14, 2016 at 9:50 AM , Blogger ambaradventure said...

beda di peralatan dan teknis. sama aja sih, tapi kalau babak belur nya ice climbing lebih terasa

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home