Friday, October 23, 2015

Menyiasati Ijin Ortu Bagi (Calon) Pendaki Perempuan

Oke, ini masalah paling klasik. Kamu perempuan, merasa muda, mengebu-gebu ikut kegiatan outdoor termasuk mendaki gunung tapi gak boleh sama ortu. Alasannya: berbahaya, ngg pantes cewek keluyuran di gunung dengan cowok belel yang ngg jelas dst dsb. Bla-bla-bla. Akibatnya bisa ditebak. Mendaki tanpa ijin adalah pilihan tersulit dan juga berbahaya. Bukan saja akan menyulitkan otoritas Taman Nasional jika terjadi apa-apa, tapi juga akan membawa nama klub, sekolah bahkan institusi lebih besar. Kasus seperti pendaki di Semeru ini yang membuat saya prihatin. Toh sebagai pendaki perempuan dan (pernah) muda ada beberapa hal yang saya pengen bagi disini untuk menyiasati ijin ortu.

Sedang mendaki tanjakan di Pinnacles Trail, Mulu National Park, Malaysia ¬©ambarbriastuti

1. Buat pedekate bertahap. Orang tua melarang karena mereka tidak tahu kegiatan outdoor itu seperti apa. Nyanyi-nyanyi sambil gitaran di gunung atau cuma alasan buat pacaran diluar. Kalau niat  memang untuk mendaki gunung dan menikmati alam, berikan deskripsi yang jelas. Oh kami akan kemping di daerah ini, berapa hari, ada pengawasnya, berapa jumlah anggota, ngapain aja dsb.

2. Sekali ngg boleh tetap ngg boleh. Belum tentu. Yups, jangan patah semangat. Berusaha pedekate terus menerus. Terkadang orang tua ngetes seberapa kita berusaha. Be persistent, dan tahu tipe ortu kita ini masuk yang bagaimana. Orang tua keras jangan dilawan keras, tapi dengan perlawanan gigih untuk meminta ijin. Lagi dan lagi. 


3. Bila perlu ajak orang tua ikut kegiatan sekali-kali. Misalnya seperti pelatihan dasar yang masih teori seperti belajar membuat simpul, atau latihan climbing di wall di kampus/sekolah. Terkadang pelatih atau pengajar akan senang hati untuk menerangkan apa yang diajarkan di lapangan ke ortu kita. 


4. Jika memikirkan untuk ikut pelatihan outdoor di lapangan, pikirkan baik-baik seberapa lama toleransi orang tua tanpa dikirimi kabar. Ada ortu yang hanya ngasih wiken aja, tapi ada yang dengan senang hati melepas sampai berhari-hari tanpa sms atau telpon. Ada yang meminta setiap hari paling tidak ngasih tahu posisi kamu. Tepati janji untuk kontak selalu.


5. Kenalkan ortu dengan teman pendaki atau partner climbing. Ini karena ortu akan menilai seberapa komitmen kamu dan bagaimana pola berteman. Apakah anaknya memang suka mendaki betulan atau cuman nyari kawan dugem di gunung. 


6. Gunung bukan tempat pelarian dari masalah. Iyah kamu bisa aja kabur dari rumah dan mendaki gunung sebagai kompensasinya. Tapi buat apa? nunjukkin kamu mampu dan punya prinsip? Nonsense!


7. Meninggalkan surat cinta ke ortu. Bahwasanya saya akan mendaki gunung A dengan si Tole dan akan pulang tanggal sekian. Oke itu juga bisa tapi ada ortu yang langsung panik dan kontak polisi. Bukan aja bikin repot sekampung tapi juga si Tole bisa dianggap melarikan anak gadis. Bukan aja bikin malu tapi bisa membuat masalah makin panjang.


8. Ngg kasih tau apapun. Oke, dalam budaya Timur dan agama, perempuan seperti kita ini masih dibawah pengawasan ortu sampai dia menikah. Ini berbeda dengan pandangan Barat yang jika sudah mencapai usia tertentu anak dianggap sebagai dewasa dan mampu berpikir sendiri. Termasuk konsekuensi mendaki tanpa ijin. Kalaupun kamu sudah melebihi 17th, punya KTP dan SIM tapi jika terjadi apa-apa, orangtua yang akan terima akibatnya.


9. Menggunakan keluarga terdekat untuk melakukan pedekate seperti paman, paklik, pakde, bude atau siapapun yang lebih bisa memahami kegiatan outdoor. Mereka ini biasanya dulu juga mantan pendaki atau pernah melakukan kegiatan serupa. Strategi ini juga cukup bagus terutama karena dari mereka akan banyak pengalaman yang bisa digali. Mentorship seperti ini biasanya lebih ampuh untuk mendekati orang tua yang kurang info.


10. Tunjukan sebagai perempuan kita bisa mandiri dan bertindak dengan logika. Salah satu kekhawatiran ortu adalah kita ini gak bisa jaga diri. Kalau ada yang mau jahatin gimana, kalau mau diapa-apain orang gimana. Skenario What IF ini yang biasanya bikin kekhawatiran makin menjadi-jadi. Jadi meyakinkan ortu kamu bisa ngurusin diri sendiri itu penting banget. Mulailah dari rumah misalnya mencoba masak sendiri, membantu ortu sana sini. Bikin amal yang baik deh…..


11. Pilih figure yang bisa kamu ambil contoh. Ini seperti tips no 9. Cuma bedanya si figure ini bisa aja tidak punya koneksi keluarga atau kontak langsung dengan kamu. Bisa aja lewat email, sms atau saling bertanya di forum. Dia akan berlaku sebagai personal mentor yang memberikan pengaruh positif ke kegiatan kamu termasuk kegiatan outdoor. Seorang mentor yang baik akan memberikan network dan kontak yang akan membantu untuk melancarkan kegiatan pendakian.


12. Sebagai perempuan Timur dan beragama ada rules seperti etika setempat yang tidak bisa kita langgar. Misalnya ngg boleh mendaki ketika sedang mens, tidak boleh bicara kotor, hormati orang tua sekeras baja apapun mereka. Tetap hormati ketidak setujuan mereka sebagai proses pendewasaan kamu. Pikirkan lagi dan lagi tindakan yang bakal kamu lakukan dan konsekuensi logis yang bakal kamu hadapi.



Well, saya bisa menulis ini karena saya pernah melalui ini semua. Bahwasanya sebagai perempuan, kita harus tunjukan mampu menjaga diri sendiri, tegas dan mandiri. Sekali lagi proses ijin itu adalah proses memberikan trust atau kepercayaan kepada kita. Sekali kepercayaan itu dilanggar, akan sangat susah untuk mengembalikannya lagi. Jadi jagalah trust itu sebaik-baiknya.

Labels: , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home