Monday, October 17, 2005

Heritage Malacca



Ketika seorang kawan di Indobackpacker mengirim pesan pendek, spontan saya mengajukan diri ke Melaka dan KL bareng. Malacca adalah kota kebudayaan yang sangat diidamkan untuk siapapun yang tertarik dengan arsitektur dan sejarah. Walau belum pernah ketemu kami langsung akrab. Minggu pagi kami mengambil bis pertama menuju Malacca di Lavender Bus Station. Taripnya SGD11, bayar di tempat. Kalau mau lebih murah, pergi saja ke Johor Baru, ambil bis dari sana dengan hanya RM11 !!! Kurs tukar memang cukup membingungkan.


Empat jam perjalanan tanpa terasa sambil diiringi hujan deras. Sesampai di Melacca kami mengitari tempat2 strategis seperti Chinatown, Masjid Kampung Kling, Satdhuys dan Dutch Square. Walau hujan kami nekad meneruskan jalan. Hingga menjelang maghrib barulah sibuk mencari penginapan. Di Jl Bukit China kami menuju Eastern Heritage Guesthouse. Sayangnya semua kamar penuh membuat pilihan akhir tinggal di klas dormitory. Taripnya RM10 sahaja atau 27rebu rupiah !!! Hasilnya kami tertidur dengan bahagia.

becadriver.jpg
Originally uploaded by ambar_briastuti.

Esoknya kami berkeliling mengitari Malacca. Sungguh kota ini mneyimpan sejarah yang panjang semenjak Parameswara membangun kampung di pinggiran sungai. Hingga bergelar Sultan Iskandar Syah kerajaan Malacca menerima baik pedagang2 dari China, Portugis, Belanda dan bahkan Jawa dan Ayuttaya. Bukti2 peninggalan bisa terlacak disini, menjadikan sebuah kota ini ideal untuk perburuan photo. Dengan berat hati kami meninggalkan Malacca siang tadi menuju KL.

Sangat banyak bis menuju kesana dengan tarip yang hampir sama sekitar RM9.50. Dalam waktu 2.5 jam kami sudah sampai di Puduraya Bus Station. Segera menuju Jl Bukit Bintang ke sebuah guesthouse bernama Number Eight. Sebuah tempat baru yang belum masuk dalam Lonely Planet. Menariknya inilah konsep guesthouse ideal untuk backpacker. Walau kami tinggal di dormitory dengan bunk bed, tapi kami bisa menikmati AC, breakfast, hot shower, teh/kopi gratis dan bahkan internet. Hanya RM30 permalam per orang pelayanan disini selayaknya hotel bintang dua.

Labels: ,

8 Comments:

At October 17, 2005 at 2:26 PM , Anonymous HAny said...

Tenkyu, tenkyu, tenkyu Ambat buat semua bocorannya... Dah sampe blum kirimanku?

 
At October 17, 2005 at 11:23 PM , Anonymous Theodrich & Althea said...

wah koq gag da foto-fotonya..

 
At October 18, 2005 at 5:10 AM , Anonymous --ambar-- said...

Shendy: saya masih pusing2 di KL sampai Rabu siang. Insyaalah foto diuplod soon.
Hany : saya blun ngecek ntar nyampe sing rebo awan wes.

 
At October 19, 2005 at 7:53 PM , Anonymous doeljoni said...

huhuhu...
jadi inget pelajaran sejarah jaman seragam putih merah dulu...

melaka,.. tempat kedua yang dihajar portugis setelah kozhikode

ohya mbak.. hang tuah kan sejarahnya disana ya ? (bener gak?) kuburnya ada gak ya ? ...

some historical value...

 
At October 19, 2005 at 8:08 PM , Anonymous wafa-bunda said...

gimana pusing2nya di KL...gak sampe pusing kaan? :)

 
At October 20, 2005 at 6:41 PM , Anonymous --ambar-- said...

Bang Doeljoni : Adanya kuburan Hang Kasturi satu dari lima Hang bersaudara. Tapi kisah meninggalnya seru karena dianggap pengkhianat oleh Sultan padahal Hang Jebatlah yang sebenarnya membunuh sodara sultan. Keduanya akhirnya mati ditangan Hang Tuah.

Aduh kisahnya hikayat Hang Tuah itu benar2 banyak pelajarannya...

 
At October 21, 2005 at 12:38 AM , Anonymous Lingga said...

Mbak Ambar, salam kenal. Pengalaman di KL, saya menginap di Red Palm, hostel kecil tanpa plang tepat di seberang Number Eight tempat Mbak Ambar tinggal. RM25 untuk dorm, dengan fasilitas yang hampir sama dan pelayanan yang cukup OK.

 
At October 22, 2005 at 4:41 PM , Anonymous --ambar-- said...

Iyah mba/mas Lingga. Saya sempet ngintip Red Palm. Tapi saya terlanjur sayang sama No.8 ini. Konsepnya beda dan desain tempatnya tau banget kebutuhan backpacker. Saya curiga yang punya adalah mantan bacpacker, ternyata emang betul. Ruangannya spacious...

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home