Tuesday, May 17, 2005

Budaya Suku IBAN : rangkuman dari berbagai literatur

Rangkuman budaya ini disusun oleh : Martin J. Malone
Diambil dari : http://lucy.ukc.ac.uk/EthnoAtlas/Hmar/Cult_dir/Culture.7847
Diterjemahkan oleh Ambar Briastuti


Siapa dan dimana Suku Iban
Suku Iban atau Suku Dayak Laut adalah suku yang tinggal di tepi sungai dengan menggantungkan hidup dari menanam padi. Mereka hidup tersebar di perbukitan Sarawak (Malaysia) dan sebagian di Borneo Indonesia. Suku Dayak Laut sebenarnya adalah sebutan yang "salah" oleh explorer dari British yang pertama kontak langsung di tahun 1840-an. Saat itu banyak dari anggota suku yang mejadi bajak laut bekerja sama dengan orang-orang Melayu. Nama Iban sendiri berasal dari bahasa Kayan yang berarti "pendatang". Pertama kali ditemui dalam literature di tahun 1901 oleh Haddon dan terus dipakai oleh Freeman 1958:50 hingga sekarang. Suku Iban menyebut komunitasnya dengan nama kampung yang mereka tinggali atau nama sungai dimana mereka bermukim.


Saat ini suku Iban menetap di "hutan terpencil di daerah yang kurang terbangun di Sarawak, dan juga sebagian tinggal wilayah yang susah dijangkau di tepi sungai Kapuas yang saat ini bernama Kalimatan atau Borneo Indonesia" (Freeman 1959:15). Sungai-sungai yang menjadi tempat tinggal suku Iban diantaranya Batang Lupar, Saribas, Krian dan Rejang. Sebagian dari mereka pindah ke wilayah pantai atau mendekati perkotaan.

Orang Iban berbicara menggunakan dialek Malaysia (subfamily Malaysia, family Austronesian) yang merupakan bahasa utama di wilayah Borneo. Dalam penggunaannya ditemui adopsi kata-kata dari bahasa lain juga Sansekerta.

Di Serawak, populasi suku Iban diperkirakan sekitar 330 ribu di tahun 1971 (Sutlive 1973:77). Di tahun 1947, jumlah mereka diperkirakan hampir lebih dari sepertiga dari populasi total di Kalimantan bahkan di beberapa tempat mendominasi diantara etnik grup. Pada dasarnya mereka adalah orang yang tinggal di pedalaman, sedang perkotaan didominasi oleh suku Melayu dan China. Di peta populasi orang Iban Freeman (ca.1950) menunjukkan mereka mendiami di sungai-sungai besar Sarawak dan sekitarnya dengan konsetrasi terpadat di wilayah Rejang Divisi Tiga (salah satu dari pembagian wilayah secara politis di Serawak) (Freeman 1955:12). Tidak ada laporan tentang jumlah suku Iban di Kalimantan Indonesia.

Kondisi Lingkungan
Cuaca dan iklim di wilayah yang ditempati suku Iban adalah basah. Terkadang curah hujan bisa mencapai 180inc pertahun. Sering terjadi hujan deras, tanah delta yang rata dengan tanah berawa di sekitar pantai. Kondisi ini menciptakan banjir tahunan yang menjadi berkah bagi suburnya lahan pertanian. Pola turun hujan tidak menentu dan terkadang menyulitkan upaya pembukaan lahan dengan menebang hutan dan membakar ilalang. Para petani Iban dengan bantuan pemerintah memulai usaha penanaman padi sistem basah dengan menggunakan herbisida. Ini sebagai upaya pembersihan lahan dan mendapatkan panen yang melimpah dalam kondisi iklim yang berubah-ubah. Adapun suhu setempat adalah berkisar 72-88 deg F atau 22.2-31.1 degree C.


Tiga perempat wilayah Serawak masih diselimuti hutan lebat, sedang sisanya berupa savana dan tanaman sekunder. Umumnya kondisi tanah kurang baik. Lahan hasil pembukaan hutan hanya bisa ditanami dalam satu atau dua musim. Lantas ditinggalkan selama 15 sampai 20 tahun. Berbeda dengan studi awal tentang sistem angkat pertanian oleh suku Iban merupakan teknik terbaik untuk menyesuaikan dengan kondisi tanah. Hasilnya sangat sedikit hama dan juga memberikan waktu bagi lahan untuk subur kembali.
Hutan tropis memberikan apa yang dibutuhkan suku Iban. Bermacam pohon, daun, serat dam juga makanan yang mereka olah untuk konsumsi sendiri dan juga untuk dieksport (dalam hal ini karet dan kayu).

Mata Pencaharian
Menanam padi adalah pekerjaan utama hampir 89% dari suku Iban namun kurang dari 40% yang dipergunakan sendiri. Umumnya orang Iban membeli nasi sebagai tambahan dari yang sudah mereka hasilkan (Sutlive 1973:201). Saat ini suku Iban tidak lagi bebas berpindah ke lokasi yang lebih subur. Mereka masih menggunakan teknik mendiamkan lahan beberapa tahun untuk membuarkan tanah hidup kembali.

Menanam padi bagi suku Iban adalah sebuah ritual dan merupakan bagian dari kehidupan daripada sekedar menyambung hidup. Hampir semua acara ritual merupakan penggambaran kesuksesan menanam padi. Tanaman yang juga ditanam : mustard, ketimun, labu, dan gourds (?) yang ditanam dalam satu ladang dengan masa petik yang berbeda. Gandum, ubi, changkok dan nanas juga ditanam. Sedang ayam dan babi diletakkan dalam kandang dibawah rumah yang biasanya di konsumsi bila ada pesta adat. Babi hutan diburu dengan bantuan anjing, sedang ikan asin yang biasa diperoleh dari nelayan Melayu adalah yang paling popular. Sabung ayam adalah budaya yang dipelihara kaum pria Iban terutama sebagai arena berjudi.

Rumah Panjang dan Kehidupan Didalamnya



Tempat tinggal suku Iban adalah di satu rumah panjang yang ditinggali 4 hingga 50 keluarga (rata-rata 14 dalam wilayah Baleh). Tiap ruang dinamai Bilek. Untuk sebuah keluarga, Bilek keluarga berukuran kecil, berkisar 4014 anggota keluarga (rata-rata 5.5). Biasanya terdiri dari dua atau tiga generasi dengan pengecualian saudara karena pernikahan tidak tinggal serumah/ Setiap Bilek keluarga merupakan bagian dari isi rumah tangga yang kegiatan memasak dan makan dilakukan bersama. Juga tiap rumah panjang mempunyai ladang sendiri, menanam padi sendiri, mempunyai ritual, aturan dan larangan sendiri.

Bilek keluarga adalah sebuah komunitas yang saling menguntungkan. Anak dinamai setelah kakek mereka, yang merupakan kelanjutan dari nama leluhur dan menunjukkan hubungan keluarga dalam kelompok. Ini menunjukkan adanya kepedulian status bagi suku Iban.
Keanggotaan dalam Bilek keluarga dan juga rumah panjang menjadi awal kelahiran, pernikahan dan juga pengangkatan anak. Sebuah keluarga bisa saja bergabung dengan rumah panjang karena kaitan persahabatan.

Setelah menikah kemudian tinggal di rumah panjang disebut juga utrolocal, yang disejajarkan dengan ambilocal rumah panjang. Pasangan suami istri bisa tinggal dengan orangtua atau harus memilih dengan siapa akan bergabung. Uxorilocalitas dan virilocalitas dianggap biasa terjadi. Perkawinan yang diharapkan diantara keluarga dekat, khususnya dari tingkat pertama hingga kelima keponakan. Pernikahan didalam rumah panjang umumnya perkawinan dengan anggota luar.

Suku Iban sangat menjunjung monogami, namun di awal tahun perceraian bisa berlangsung mudah dan dianggap biasa. Perkawinan lintas etnik walau terkadang ditentang terbukti membawa banyak keuntungan bagi rumah panjang. Saat ini orang Iban yang berpendidikan cenderung menahan untuk menikah. Mereka melihat apakah pernikahan menguntungkan secara ekonomis dilihat dari latar belakang keluarga terutama yang mempunyai penghasilan yang tinggi.

Komunitas rumah panjang selalu berada di tepi sumber air. Populasi mereka sangat bervariasi dari 80.5 (Baleh) hingga 137 (Sibu). Tingkatan lebih tinggi biasanya tidak mencapai 200. Di komunitas Baleh dimana hutan masih sangat kaya, biasanya komunitas terdiri dari sebuah rumah yang sangat panjang berada antara satu atau dua miles ditepi sungai. Dalam komunitas Sibu dimana keterlibatan pemerintah dalam program tinggal menetap maka jarak antara rumah yang satu dengan yang lain makin dekat. Dengan jumlah yang banyak ini bukan berarti menjadi sebuah desa atau perkampungan. Setiap rumah panjang mempunyai wilayah sendiri yang didalamnya Bilek keluarga juga mempunyai kekuasaan sendiri.

Sebuah rumah panjang tidak mempunyai property sendiri. Komunitas rumah panjang biasanya mempunya anggota utama yang merupakan pendiri komunitas dan berhubungan secara langsung. Mereka ini biasanya mendiami di bagian tengah dari rumah panjang. Keanggotaan rumah panjang biasanya dari hubungan satu dengan beberapa keluarga. Di tingkat Baleh relasi antar keluarga ini setingkat 100 persen (Freeman 1955:9 : Sutlive 1973: 360-361).

Hubungan Sosial
Terdapat dua jabatan penting dalam rumah panjang. Tuah Barong adalah seorang tetua yang membaca penanda alam terutama dari burung sebelum sebuah peristiwa penting akan dilaksanakan. Ia juga bertanggung jawab atas upacara ritual yang berlangsung di rumah panjang. Tuan rumah adalah ketua yang mengurusi administrasi dan keperluan adat atau hukum dan aturan suku Iban, dan juga sebagai juru damai dalam konflik. Ia tidak mempunyai kekuatan politis, ekonomi dan ritual. Biasanya dipilih dari seorang pria yang mempunyai status yang tinggi dalam hal pengetahuan dan kemampuan persuasive dalam mengambil keputusan. Dalam suku Iban pengaruh dan status social tidak bisa diwariskan. Mereka menganut pencapaian adalah individu, bukan sesuatu yang diturunkan.

Walaupun suku Iban tidak mempunyai tingkatan kelas, namun mereka sangat kompetitif untuk mencapai prestasi dimana status dan gengsi merupakan hal utama dalam komunitas. Pencapaian tingkat kekayaan dan hasil panen yang melimpah adalah salah satu tanda kesuksesan. Lembaga pejalai (bejalah), dimana anak muda dikirim keluar komunitas untuk bekerja dan mendapatkan pengalaman adalah bagian penting dari adat suku Iban. Ketika kembali ia harus membawa barang berharga dan juga bermacam tattoo yang membuktikan bahwa ia telah melakukan perjalanan. Kaum wanita Iban tidak bepergian dan ketertutupan mereka dengan budaya luat membuat mereka dan hasil kerajinan tangan menjadi sangat konservative. Dalam struktur social, kaum wanita Iban tidak berada dibawah kaum laki-laki. Kepala rumah tangga adalah juga wanita sejajar dengan kaum laki2. Kaum wanita juga memainkan peranan yang sama dalam acara pertemuan (Gomes 1911:80). Ketika jabatan penting dalam rumah panjang terbaas hanya untuk pria, hak antara pria dan wanita adalah sama dalam hal properti dan warisan.


Kepercayaan suku Iban dikaitkan dengan pertanda, gejala alam dan padi. Terdapat banyak Dewa dan Roh, salah satunya adalah Petara yang kemungkinan meminjam dari Hindu sebagai pemimpin para Dewa. Arwah leluhur sangat penting terutama untuk menjamin keberhasilan menanam padi. Padi dipercaya mempunyai jiwa dan harus diperlakukan dengan hormat dan bijak. Di beberapa wilayah, agama Kristen mengadopsi kepercayaan mereka dan menambahkannya sebagai salah satu dewa ketimbang menghapuskan kepercayaan lama.

Telah lama diketahui bahwa Suku Iban mempunyai kontak dengan etnis lain. Pertama adalah etnis China dan Melayu dan kemudian kulit putih. Dalam perjalanannya, beberapa kali suku Iban terlibat gesekan terutama dengan China tentang klaim atas tanah. Namun secara umum hubungan dengan etnis lain berlangsung damai. Kaum China secara mayoritas menguasai perdagangan dan komersial tingkat menengah baik di pedalaman dan juga perkotaan. Saat ini beberapa warga suku Iban telah mempunyai toko sendiri dan sedikit yang menikmati kesuksesan dengan backing dari kaum China. Suku Melayu, dengan Serawak sebagai bagian dari militer Malaysia sejak 1966 mempunyai kekuatan politik yang cukup berarti. Semangat independensi dan ketidak mampuannya bekerja dalam tim membuat suku Iban meraih posisi sejajar. Perkawinan inter-etnis adalah hal yang biasa dan bisa diterima, namun konflik etnis tetap saja siap meletus. Seperti halnya di pertengahan 1960-an, disaat kekerasan terjadi karena campur tangan pemerintah.

Rangkuman tentang budaya suku Iban berdasarkan sumber dari yang mungkin bisa ditemukan di LeBar (1972: 180-184). J. D. Freeman (c.f. 1955, 1958) adalah bentuk modern budaya suku.

References:

1.Freeman, John Derek.
Iban agriculture: a report on the shifting cultivation of hill rice by the Iban of Sarawak. London, Her Majesty's Stationery Office, 1955.
12, 148 p. illus., maps.

2.Freeman, John Derek.
The family sustem of the Iban of Borneo.
In Jack Goody, ed.
The Developmental Cycle in Domestic Groups.
Cambridge, University Press, 1958: 15-52.

3.Gomes, Edwin H.
Seventeen years among the Sea Dyaks of Borneo: a record of intimate ssociation with the natives of the Bornean jungles.
With an introduction by the Reverend John Perham.
London, Seeley, 1911.
343 p. illus.

4.LeBar, Frank M., ed. and comp.
Ethnic groups of Insular Southeast Asia.
2 v. New Haven, Human Relations Area Files Press, 1972: Vol.
1, pp.
180-184.

5.Sutlive, Vinson Hutchins, Jr.
From longhouse to pasar: urbanization in Sarawak, East Malaysia.
Ann Arbor, University Microfilms, 1973.
4, 10, 479 l. illus., maps, tables.
(University Microfilms Publications, no.
73-16,345).
Dissertation (Anthropology) -- University of Pittsburgh, 1972.

Labels:

3 Comments:

At May 17, 2005 at 6:49 PM , Anonymous Hany said...

Lengkap tenaaaannn!!!! Fotone???

 
At May 17, 2005 at 7:34 PM , Anonymous --ambar-- said...

Foto menyusul nanti klo jadi kesana. Ditunggu aja seminggu lagi. Janji wes !

 
At June 2, 2005 at 9:01 AM , Anonymous Anonymous said...

hey mbak ambar pa kbr? bicara ttg suku dayak iban, kebetulan saya punya temenen yg tau byk ttg iban dan suku2 dayak laennya (dia thn kmrn baru aja melakukan penelitian ttg lukisan gua dan kebudayaan suku2 dayak di sarawak) dia sekarang sdng mengajar dan tinggal di malaysia, dkt kan dr s'pore. so kl mau sharing dng dia silahkan aj, orngnya welcome bgt kok, dan dia dl kul di jogja jg

-irfan @jogja
peleth@yahoo.com

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home