Friday, May 6, 2005

Sapa bilang hidup di luar negeri itu ENAK ???


ngga enaknya banyak

Setiap kali aku ditanya dimana aku tinggal, pasti disertai : wah..pasti enak ya di luar negeri terus. Disatu sisi hidup di luar negeri itu menyenangkan. Salah satunya karena negara yang aku tinggali sudah established ketimbang Indonesia yang tertatih-tatih. Padahal masih segudang ketidak nyamanan dibalik itu.

[1] Isu rasial. Tampaknya ini klasik banget tapi ini terjadi di lapangan. Ngga di UK/Eropa atau Singapore ini tetep aja terasa. Seorang kawan saya sempat bentrok dengan bule di bus-stop gara2 sepele. Atau saya ditegur suster karena dianggap ngga mampu bayar suntik Hep B. Sedang di Singapore, adalah lebih rasis lagi (sorry guys I tell the truth). Kulit saya yang sawo matang diidentikan dengan malay yang mempunyai struktur sosial lemah disini.

[2] Bahasa. Bagi yang kampiun bahasa, mungkin no problem. Bekal TOEFL >500 ngga jamin lantas ewes-ewes lancar ngomongnya. Saya hampir menangis ketika pertama kali menelepon di UK karena ngga donk blass apa yang diomongin. Useless. Sedang disini Sing-lish mixed chinese dan english lebih serasa aneh.

[3] Money matter. Di LN berlaku bekerja keras dan performance menjadi utama. Ngga pake sogok-menyogok, korup menkorup untuk dapet karir. Jadi buat yang pengen di LN (kecuali keluarga konglomerat atau oknum pejabat) siap2lah banting tulang.

[4] Biaya hidup. Ini masih kaitannya dengan duit. Yah gaji berlipat tapi biaya hidup sehari-hari juga mahal. Belum untuk makan, transport, bills (listrik, air, gas, internet, phones dan tax). Yang terakhir ini paling kerasa di UK ketika disana menganut pajak progresive. Makin berpenghasilan makin dipajakin (bisa sampai 20%an) . Punya mobil harus bayar: road tax, insurance. Punya rumah harus bayar : council tax or PBB, asuransi rumah yang besarnya juga berlipat-lipat.

[5] Cultural changes. Bagi orang yang dengan kesadaran merubah diri menjadi western, tentu ini bukan masalah. Tapi bagi aku yang bangga dengan kampung dan latar belakang timur ini akan memerlukan waktu untuk adjust dengan lingkungan sekitar. Siap dicap nggak gaul karena ngga clubbing atau secara ja-im (?) karna ngga punya designer's stuff. Hiks....

[6] Visa dan Immigrasi. Sebagai WNI mau tidak mau harus ngurus visa klo kemana-mana. Termasuk ijin tinggal dan ijin kerja. Aku sarankan jangan ngebohong atau taktik fraud documents. Lebih berbahaya dari kriminal karena kita jadi diblacklist. Dan itu ngga GRATIS. Juga perlu pengorbanan waktu dan tenaga ngantri dari subuh. Saat ini bahkan biaya visa di UK (termasuk student) naik walau sudah diprotes oleh Student Union.

Sekali lagi rumput tetangga itu keliatan lebih ijo royo-royo...

Labels:

5 Comments:

At May 8, 2005 at 11:59 PM , Anonymous Ilman said...

kondisi yang ambar ceritain emang terasa banget kalo kita dinegara orang.. bahkan di asia tenggara pun, begitu kita ngeluarin paspor garuda.. langsung deh keliatan underestimate-nya mereka pada kita.

 
At May 9, 2005 at 2:47 AM , Anonymous Lisa said...

Setuju mbak. Saya mau komen point no 5. Saya merasa "confortable" di perancis krn teman2, org2 yg saya kenal, baik di kantor maupun di kegiatan yg lain, rata ngga suka pamer brg2 bermerek. Malah (sori ya) sebagian org2 indo di sini yg heboh dg brg merek ....

 
At May 9, 2005 at 4:46 AM , Anonymous Hany said...

ck... sebnere di mana2 podo wae. ono enake lan on ora enake. sing penting, iso bertahan.

 
At May 9, 2005 at 9:01 PM , Anonymous Travellog said...

hihiihi ijo royo royo ya mbak ambar .. waduh cerita na mnarik sekali .. hehe saya hari ini pake baju ijo royo royo lhoo mbak :)

 
At May 10, 2005 at 9:43 AM , Anonymous cikubembem said...

mau makan susah :(

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home