Friday, August 11, 2006

Trekking with Everest Porters


Trekking dengan Porter Everest
Nalvin Singh Khadka dari Himalaya


Dalam ketinggian 4,000m penyakit ketinggian (altitude sickness) terasa makin mendera Tidak ada jalan raya menuju Himalaya -tempat gunung tertinggi Mt. Everest. Untuk menuju kesana membutuhkan porters baik laki-laki dan perempuan. Tak heran porter di wilayah ini bertebaran dimana-mana

Navin Singh Khadka dari BBC's Nepali service mencoba menyempatan waktu untuk mengunjungi tempat tinggal orang-orang kuat ini. Beberapa dari mereka bahkan masih remaja.

Negara saya di Nepal terletak sangat tinggi, anda bisa jadi merasa kesakitan hanya dengan berjalan menuju ke base camp yang berada di kaki gunung. Dalam ketinggian yang sama para porter membawa keranjang dengan berat 50kg –beban yang biasa dibawa oleh penduduk lokal.

Saat ini Nepal mengalami masa-masa sulit. Konflik senjata yang terjadi antara pemerintah dengan gerilyawan Maoist dilaporkan hampir setiap hari dengan pasukan tentara yang membom desa-desa dari udara. Namun hidup harus terus berlanjut bagi para porter untuk mencari nafkah dari mengalirnya para trekkers ke daerah Himalaya.

Tempat yang Tepat Untuk Mati

Ketika aku harus menyeret kakiku yang terlihat kesulitan untuk digerakkan, mereka para poter bergerak dengan penuh percaya diri.

“Para turis itu bukan masalah, tapi mereka jarang bercerita tentang kondisi diri mereka,” begitu kata salah satu porter ketika saya sibuk mengejar langkahnya. “Mereka memang lambat ketika berada di jalan. Kami selalu memimpin didepan. Tapi nampaknya ini cukup membuat mereka puas -mereka ingin barang2 nya berada di depan. “

Untuk mendaki sisi gunung Everest memang sungguh dramatik dan berbahaya. Seorang porter bercerita pengalamannya ketika mendampingi orang India menuju Tibet. Salah seorang anggotanya mengalami sakit di dada dan tak lama kemudian meninggal.

“Masalah yang dihadapi trekker dari India itu adalah mereka tidak membicarakan apapun sebelumnya bahkan saat mereka sakit,” ia bercerita. “Mereka puas meninggal disini karena ini adalah rumah bagi Dewa Shiwa, sebuah tempat yang bagus untuk mati.

“Tapi sesungguhnya ini membuat perasaan kami terasa berat. Ini bisa saja terjadi pada salah satu dari kami –tidak ada yang pernah bisa meramalkan hal itu. Sakit ketinggian bisa terjadi pada siapa saja".

Sakit ketinggian terjadi saat kita mengalami kesulitan bernafas di tingkat ketinggian tertentu. Darah keluar dari paru-paru, sakit kepala yang hebat, kehilangan kesadaran, dan bila tak tertangani kematian bisa terjadi. Namun dibalik tingginya resiko, porter menjadi sebuah pemandangan yang biasa di ketinggian yang berbahaya –ketinggian yang biasa ditempuhi para Sherpa.

Karena adanya konflik dengan Maoist maka jumlah para trekker menurun. Ini menyebabkan porter dan sherpa saling berebut sejumlah turis yang tetap datang. Ketegangan makin nampak di daerah rendah ketika para porter trek berjalan menuju daerah para Sherpa.

Minum Beer dan Saling Bercanda

Para porter merasa Sherpa memandang rendah kemampuan mereka. Salah seorang porter menyebutkan pengalaman dalam salah satu trip. “Para Sherpa menempati setengah ruangan tapi mereka menyuruh kami tidur diluar.”

“Apa yang akan mereka kerjakan kalau kami ini tidak membawa para turis kesini?” ia menambahkan “Mereka mungkin menjual kentang dan menyuruh kami untuk membelinya.”

Di kesempatan lain, para porter mengeluh bahwa para guide mengeksploitasi mereka. Salah satu taktik adalah menyuruh porter untuk berangkat dan hanya kemudian diberi tahu bahwa mereka tidak akan dibayar. Para porter Himalaya ini mempunyai cara bercanda dan kepercayaan sendiri. Salah satunya adalah jika para porter melakukan hubungan seksual dalam perjalanan menuju gunung, maka keesokan harinya salju akan turun dengan lebatnya hingga mengubur hidup-hidup.


Walau begitu tidak semua porter muda yang percaya, kebanyakan dari mereka masih remaja. “Kami bisa melakukan apapun, karena kami sangat kuat,” kata salah satu porter muda itu. Tahun ini sedikit terasa aneh di pegunungan Himalaya. Tidak turun salju di musim dingin dan saat ini musim semi ketika salju seharusnya mencair, tapi malah turun salju.

Di ketinggian 4,000m kami mencapai Tyangboche. Sebuah tempat yang sederhana –hanya sebuah tempat tinggal para pendeta dan satu dua tempat tinggal untuk trekker dan porter. Dari sini dibutuhkan perjalanan kaki selama satu minggu untuk mencapai jalan terdekat.

Lantas apa yang bisa kita lakukan selanjutnya? Minum beer, bermain kartu dan saling bercanda, begitu jawaban para porter.

Mereka juga membicarakan politik – hal yang saya temukan ketika secara tidak sengaja saya menyalakan microphone. Salah seorang porter mengira saya adalah seorang mata-mata. Tapi porter lainya menyanggah –“Jika seluruh pemerintah tidak melakukan apa-apa lantas apa yang bisa dilakukan oleh satu orang ?”

“Dengan Negara yang makin dilanda masalah, kemudian BBC datang dan bicara dengan porter rendahan. Ini tidak akan merubah apapun.”

Begitu salju makin banyak jumlah para trekker makin menurun. Mereka juga menyatakan bahwa sebenarnya memerlukan para trekker. Mereka khawatir tentang apa yang bisa mereka kerjakan jika para turis berhenti datang atau ketika cuaca memburuk sepertinya ini.

Tak lama kemudian saya mengalami sendiri perkembangan sakit ketinggian. Malam itu saya merasa kesakitan dan kesulitan bernafas. Keesokan harinya sebuah helicopter datang untuk membawa saya keluar, tidak ada jalan lagi bagi saya untuk mendaki makin tinggi.

Setelah 20 menit terbang, saya berada 1,000m lebih rendah di sebuah rumahsakit Lukla dan merasa kembali normal. Dokter yang berada di sini adalah seorang Sherpa. Ia mengobati sekitar 6,000 turis setiap tahunnya per tahun dan sejumlah besar porter. Luka-luka di kaki dan dengkul, akibat jatuh ketika membawa beban berat adalah yang paling sering terjadi.

Tak jauh dari rumahsakit adalah Karma Internet Café –yang didalamnya nampak kesibukan para porter dan sherpa putus asa menggunakan internet untuk mendapat pekerjaan. Salah seorang dari mereka, Tendashering Sherpa mengatakan bahwa ini satu-satunya pilihan sumber hidup.

"Tidak ada pekerjaan dan saya harus mencari nafkah. Latar belakang keluarga saya adalah mountaineering. Jadi beginilah saya mendaki gunung di Himalaya,” begitu ujarnya.”

“Bagi kami ini semua tentang bisnis. Jika kami mendapat satu climbing yang berhasil maka kami kira akan ada lebih banyak lagi tim di kemudian hari. Jadi kami selalu berusaha agar menjadikan grup sukses.

“Namun ini semua saya lakukan untuk istri dan keluarga saya. Saya mungkin memilih menjadi petani –dan meninggalkan semua resiko ini.

From BBC Online
http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/south_asia/5133278.stm
Pictures : BBC and Google Earth

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home