Wednesday, May 13, 2009

Andai Saya Seperti Paikea



In the old days, the land felt a great emptiness.
It was waiting.

waiting to be filled up.

waiting for someone to love it.
waiting for a leader.
And he came on the back of a whale...

a man to lead a new people
.
Our ancestor, Paikea.



Paikea, gadis kecil Maori membisikkan mantra pada sang ikan paus, menenangkannya untuk bersedia dibawa kembali ke tengah lautan. Delapan ikan besar terdampar di bibir pantai, tak berdaya. Upaya untuk memindahkan ke laut pun sirna. Terlalu kuat, terlalu besar. Dengan memberanikan diri, Paikea naik ke punggung sang pemimpin ikan paus, memberi semangat dan perintah untuk tidak menyerah. Seperti kisah leluhur pemimpin suku Maori di Hawaiki, Paikea akhirnya menjadi penunggang ikan paus, Kisah mengharukan dalam film Whale Rider (2002) menceritakan hubungan yang indah antara ikan paus dengan suku Haka di New Zealand.

Terkesan banget dengan film itu membuat saya penasaran melihat ikan paus. Bukan di kebun binatang atau aquarium, tetapi di habitat asli. Dalam beberapa tahun ini ikan paus menjadi contoh klasik perjuangan lingkungan. Simbol korban pemanasan global dan ketamakan manusia seperti halnya beruang kutub. Hubungan yang indah dan harmonis itu berubah menjadi bentuk eksploitasi. Ikan paus adalah komoditi, seperti sumber yang tak habisnya.

Lantas apa sih keistimewaan seekor ikan yang besar ini. Ternyata ikan paus bukanlah ikan. (Jadi translasi “ikan paus” itu perlu dipertanyakan). Whales adalah spesies yang masuk dalam mammalia, yang jelas bernafas dengan paru-paru bukan dengan insang seperti ikan. Kalau dikenang sisi kitab tiga agama –Jahudi, Kristen dan Islam, kisah Nabi Yunus yang berada di perut ikan paus selama tiga hari adalah favorit saya sejak kecil. Jadi rasanya hubungan cinta antara manusia dan ikan paus tak hanya terurai lewat ayat. Sudah menjadi bagian sejarah.

Dua setengah tahun lalu saya mendatangi Whale Watching di teluk Monterey di California. Sayangnya badai dua malam membuat misi jadi gatot. Desakan hati membuat saya nekad mencoba. Kali ini saya beruntung, yakni tepat dimulainya musim panas.

Dari bulan Mei hingga Desember perariran di teluk Monterey hingga Baja di California adalah spot menarik. Ikan paus berbagai jenis dalam perjalanan migrasi menuju lautan yang lebih dingin seperti Canada mampir disini untuk mengisi perut. Posisi berada di pantai barat benua Amerika berhadapan dengan lautan Pacific adalah tempat ideal bagi ikan kecil seperti anchovies (teri), sardin dan krill, sumber makanan si ikan paus.

Minggu pagi saya bersiap cek in di dermaga sembari menyiapkan perbekalan. Calon penonton diminta berada di lokasi dermaga Fisherman’s Wharf sebelum pukul 9 pagi. Walau sudah hangat namun angin dingin membuat saya mantab memakai baju lapis, hingga jaket tahan air. Alat photography terpaksa dibagi untuk mendapatkan hasil terbaik. Ngga sempat sarapan, cuma muesli bar dan segelas kopi.

Rupanya sarapan sedikit ada untungnya. Naik perahu Sea Wolf I diperuntukkan bagi yang tahan mabok laut. Gelombang cukup ganas, terutama pada karang datar yang menghempas dengan kejam. Captain Mike mengingatkan. Jika ngga kuat, larilah ke belakang kapal. Sumbangkan sarapan anda untuk ekosistem laut California. Mencoba sok berani duduk di depan, tapi ternyata cipratan air laut ngga kepalang. Demi kamera saya mundur teratur. Air laut euy…

Begitu meninggalkan dermaga, kabut tebal masih mengambang di permukaan. Jejak Horizon nyarik tak nampak, hanya air laut yang berwarna abu-abu, seperti halnya langit. Tidak ada biru, tidak ada sinar matahari. Cilaka buat motret kalau cuaca begini.

Hanya sekitar 20orang di kapal, sebagian duduk manis. Sekitar 45 menit di lautan lepas, saya bisa melihat langit biru. Sinar matahari rupanya mengangkat kabut. Semua mulai terlihat sumringah. Scientist yang bareng dengan kami menerangkan banyak aspek tentang habitat di Monterey, sebelum ia mengenali pundak panjang ikan paus beratus meter didepan. Kami terhenyak. Baru yakin ketika ekornya yang besar mulai menghilang.

Ikan paus humpback (Megaptera novaeangliae) pertama pagi itu rupanya dalam perjalanan menuju spot favorit. Timbul tenggelam di lautan dengan kecepatan 4 knot mengimbangi gerak cepat ikan paus tadi. Baru disadari, tidak hanya satu tapi sebuah tim dengan tujuh ekor menyelam dengan kecepatan stabil. Menilik lokasi mereka memang diperlukan mata yang tajam. Satu2nya petunjuk cuma semburan udara yang keluar dari dua lubang punuk.

Tak jauh serombongan ikan lumba-lumba white sided pacific dolphin (Lagenorhynchus obliquidens) menemani kapal. Jungkir balik, bermain dengan lincahnya. Ikan lumba2 ini biasanya menyertai ikan paus terutama disaat perburuan makan.

Indikasi ikan paus berburu mulai terlihat ketika ketujuh ikan tadi membuat formasi melingkar. Mereka ini mengambil posisi hunting sambil mengeluarkan gelembung udara didalam air. Ini semacam penghalang ribuan ikan keluar dari perangkap. Begitu ikan tak bisa keluar, ikan paus dengan mulut terbuka menerjang ribuan ikan tadi. Yaitu menerkam dengan sekali telan. Dari jauh terlihat besaran mulut ikan paus berlomba dalam gerakan yang simultan terkoordinasi.

Metode hunting ini sangat mengesankan para peneliti karena menunjukkan tingkat kecerdasan dan pembagian peran yang terencana. Masih belum diketahui bagaimana ikan paus mengkoordinasi serangan ini, karena berbeda dengan ikan paus yang lain, humpback tidak menggunakan bunyi sebagai “echo location” atau lokasi gaung. Nyanyian ikan paus humpback ditengarai hanya untuk memulai musim kawin. Teka-teki yang masih harus dipecahkan oleh peneliti binatang.



Kamera di tangan susah sekali mengikuti kecepatan sambar yang terjadi tak terduga. Saya melirik iri pada kamera disamping. 8 frame per seconds (fps). Bunyi deretean tombol seperti ngga henti. Gilaaa mak…. Lensa saya sama dengannya tapi bodi kalah jauh. Dalam situasi begini, kamera tua saya rasanya menggeh2 mengikuti terjangan ikan paus. Saya ternyata salah strategi, terlalu berkonsentrasi pada lumba-lumba yang berenang lebih dinamis. Posisi di atas kapal juga berpengaruh. Benar kata orang jualan: Location..location..location.


Dalam adegan “feeding frenzy” selama 1 jam ini hentakan dan gumulan ikan paus makin mengesankan. Saya hitung minimum tiga kali episode serangan simultan. Tak jauh ratusan burung camar bergerak mengitari lokasi. Berlaku sebagai oportunis sejati, burung camar dan pelican ini mengambili ikan2 yang lolos sergapan ikan paus. Kebanyakan dalam kondisi lemah karena terluka. Dengan mudah tinggal menukik tajam ke permukaan laut, menyambar dengan cepat.

Beberapa burung albatross (Phoebetria palpebrata) melintas. Bentuknya yang khas dengan sayap tajam dan badan gembul membuat terlihat beda diantara kawanan burung camar. Burung albatross sangat istimewa karena bentangan sayapnya yang melebihi tinggi manusia. Tubuhnya sangat besar dengan kemampuan ‘glider’ yakni terbang dengan meluncur, membuat tingkat efisiensi yang tinggi. Menjelang dewasa, burung albatross migrasi mengelilingi bumi tanpa pernah menjejakkan kaki di daratan. Tahun lalu saya sempat mampir di Otago Peninsula, New Zealand mengamati koloni burung albatross.

Beberapa kali saya sempat memergoki singa laut (Zalophus californianus). Kepalanya yang ramping timbul tenggelam diantara ombak tinggi. Di teluk Monterey dan jajaran pantai sekitarnya, singa laut ini banyak banget. Rupanya pesta ikan ini banyak mengundang kawanan lain.


Kami bergerak mengikuti kawanan ikan paus, lumba2, ikan dan singa laut hingga setengah jam. Sebelum akhirnya pesta berakhir. Humpback menuju laut bebas dalam format sejajar. Kami tahu, sudah saatnya kembali ke dermaga.

Saya teringat dengan tradisi perburuan ikan paus sperm whales (Physeter macrocephalus) di Lamalera kepulauan Lembata, Timor. Perburuan dan pembunuhan ikan paus adalah bagian dari tradisi dan kehidupan sehari-hari. Dengan hanya menggunakan dua kapal nelayan (peledang), sebentuk bambu (kefa) dan badik untuk mencabik tubuh. Berbeda dengan negara lain seperti Jepang yang menggunakan teknologi modern, perburuan di Lamalera dianggap sesuai dengan sumber alam, kepercayaan tradisional dan gaya perburuan yang tidak berlebihan.

Kata “sustain” agaknya lebih tepat untuk menggambarkan tradisi perburuan di Timor, ketimbang komersialisasi. Ada mekanisme alam yang menjaga pendulum untuk selalu dalam level seimbang. Entahlah jika jumlah penduduk meningkat ataupun dianggap sebagai komoditi pertunjukkan turis. Saya sendiri ngga tega melihat perburuan ikan paus karena bisa dipastikan akan banyak pemandangan berdarah-darah.

Andai saya seperti Paikea, pastilah saya bawa ikan paus menerjang lautan. Melarikan diri dari ketamakan manusia.



Catatan kaki :
  1. Dalam budaya pop, saya cuma mengenali sebuah lagu dengan intro nyanyian ikan paus. Dibawakan oleh Kate Bush (Kick Inside 1978) dengan judul Saxophone Song. Suara Kate Bush yang melengking, agaknya seimbang dengan frekuensi jeritan ikan paus. Syairnya sendiri ngga menyinggung sama sekali soal whales. Aneh bangets...
  2. Yang lebih lucu adalah lirik lagu Enya –Sail Away sering disalah dengar sebagai Save the whales, save the whales, save the whales…
  3. Ada sebuah buku anthropologi dari Universitas Oxford tentang perburuan ikan paus di Lamalera. Judulnya: Sea Hunters of Indonesia: Fishers and Weavers of Lamalera (1996) oleh R.H. Barnes. Belum baca, tapi jika ada tinjauannya, mohon dijapri. Thanks banget.
  4. Nonton Sea Shepard –pentolan Greenpeace yang mengkhususkan pada perjuangan anti Whaling. Tapi liat pola sabotase-nya kok jadi seperti terrorism yaks...
  5. Nonton Whale Rider (2002) selalu berakhir dengan mewek…hiks hiks mengharukan soalnya. Trailer bisa dilihat disini
  6. Booking dengan nonton ikan paus ini lewat www.montereybaywhalewatch.com Biaya per orang US$45. Lewat telpon atau online. Kapal tersedia dua, Sea Wolf I dan II, yakni satu khusus untuk orang dewasa dan satu untuk family. Saya sendiri lebih nikmat dengan kapal kecil karena lebih sigap.
  7. Royal Albatross Centre di Otago Peninsula, Dunedin New Zealand. Tiket : NZ$39.
  8. Monterey Aquarium menyimpan koleksi kelautan paling mengesankan, terutama ubur2. Tiket US$29.95. Photo koleksi dua tahun lalu disini

Labels: ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home