Friday, August 22, 2008

Memilih Buku Panduan Backpacker


Benarkah Lonely Planet (LP) adalah buku panduan yang paling oke? ah enggak juga. Sapa bilang LP hanya salah satu sumber saja. Banyak kok Guide Books yang lebih dalam dan comprehensive dilihat dari kebutuhan saya yang mixed antara Adventurer dan Backpacker.

Saingan terdekat LP adalah Rough Guide (RG) yang formatnya mirip tapi tak sama. Lebih menekankan pada outdoor ketimbang jalan2 kota. Informasi tentang penyedia jasa adventure operator paling banyak disana. Sedang penginapan dan makan lebih ke low end ketimbang LP yang terkadang membuat pemilik penginapan jadi cenderung over hype. Beberapa tahun ini ada Guidebooks baru yang mencari market backpacker yakni Let's Go. Lumayan sih dibandingkan dengan LP atau RG walaupun masih bersifat ngikut saja. Footprint juga terbitan UK yang formatnya mirip-mirip Rough Guide. Banyak informasi tentang outdoor disana. Hanya sayang mungkin kurang update jadi sedikit tertinggal dari kawannya ini.

Cicerone dan Trailblazer juga mencoba mencari pasar backpacker tapi lebih spesifik. Keduanya ini mengambil jalan yang beda. Cicerone lebih ke arah adventure di Eropa dengan topik-topik yang menantang misalnya jalur panjat via ferrata di Dolomites Itali. Sedangkan Trailblazer kebanyakan adalah trekking terutama di tempat2 yang populer seperti Annapurna dan Peru. Satu hal yang sangat saya suka soal Trailblazer adalah edisi Overland-nya. Dari Silkroad (Jalansutra) hingga adventure dengan sepedamotor dan kereta api. Edisi Trans Siberia-nya ngga kalah dengan LP. Menariknya kebanyakan peta yang ada di buku Cicerone dan Trailblazer adalah ilustrasi tangan alias manual. Ah mengingatkan romantisme travelling era pioneer dulu.

Pemain lama seperti Fodors dan Frommers juga pantas dilirik. Hanya saja keduanya ini lebih menekankan ke traveller yang udah dewasa (mature). Bahasanya juga terkadang terlalu bertele-tele, kurang langsung dan tidak beropini. Banyak bumbunya deh. Mungkin karena berusaha menjual tempat jadi rasanya kurang berpihak ke calon pejalan. Buku Guide yang baik adalah memberikan opini yang imbang, yakni pembaca diberikan informasi menarik tapi juga diingatkan untuk tidak terlalu ekpektasi berlebihan. Beda dengan InFlight Magazine yang cenderung ringkas dan tematik, menjual destinasi berdasarkan rute pesawatnya.

Baru-baru ini saya buka buku Guide terbitan Moon. Seperti Frommer dan Fodors, Moon lebih menekankan pada daerah Amerika dan Amerika Latin. Gayanya sedikit beda tapi hampir sama yakni lebih ke traveller dewasa. Juga topik-topiknya lebih mengarah ke vacation-type ketimbang adventures. Pas banget kalau cuma rileks, nyante saja menikmati hidup. Bahkan ada panduan untuk tinggal di luar negeri jika terkadung cinta dengan tempat yang kita singgahi.

Ada Guidebooks yang merupakan kepanjangan tangan dari jasa peta yang mereka punya. Misalnya : Michelin dan Insight. Keduanya udah dikenal dalam urusan peta. Michelin memberikan detail peta plus fasilitas sekitarnya termasuk restaurant dan penginapan. Bahkan karena ini Michelin jadi terkenal sebagai parameter bintang untuk layanan resto.

Begitu banyaknya ragam Buku Panduan ini lantas yang mana yang dipilih? itu tergantung pada selera, kebiasaan, dan kebutuhan informasi. Saya sendiri membaca buku jika hendak melakukan perjalanan panjang, terutama mengetahui latar belakang sejarah, politik dan pergerakan sosial negara tertentu. Jadi ngga cuma mau kemana, dengan apa, nginep dimana. Buku Panduan yang baik akan menjawab pertanyaan seperti kenapa orang inggris selalu menanyakan cuaca atau bahasa tarzan yang tepat di jalan.

Susahnya adalah ngga semua buku tadi tersedia di Indonesia. Ruang edarnya enggak nyampe ataupun terbatas plus harganya juga gila2an. Nah berikut adalah tips yang mungkin bisa dipakai jika pengen beli buku panduan bekas tapi masih bagus.

  1. Bertemanlah dengan backpacker asing, sapa tau dapet lungsuran he he he...
  2. Coba pergi ke tempat yang populer buat turis di Indonesia (Jl Jaksa, Kuta, Sosrowijayan). Terkadang losmen atau cafe memajang buku-buku bekas mereka. Why? buat menutup hidup terkadang backpacker asing menjual murah apa aja yang mereka punya, termasuk buku ini.
  3. Belanja buku di Singapura, Kuala Lumpur atau India. Harga buku lumayan jauh dengan Indonesia dan lebih variatif. Catatan : tidak semua lebih murah loh, please cek kembali harga persatuan.
  4. Belanja buku seken di Amazon Market Place. Caranya adalah lihat buku yang dicari, lantas klik bagian yang "used" dengan harga yang lebih rendah. Daftar penjual akan terlihat dan pilih mana yang bisa mengirim secara worldwide.
  5. Saya tidak menyarankan ebay karena beberapa hal. Salah satunya karena untuk buku, ebay kurang terpercaya dan menurunnya kualitas pelayanan.
  6. Buat yang tinggal di luar negeri, rajin-rajin mencari toko loakan. Sapa tau nemu harta karun. Ada juga event garage-sale atau library sale adalah kesempatan emas mencari buku murah.

Ada beberapa hal yang musti diperhatikan soal guide book yakni :

  • Tiap buku punya kelebihan dan kekurangan terutama berkaitan dengan tema/negara tertentu. LP itu sangat dikenal dengan rute backpacker era 70-80an tapi belakangan mengalami set-back hingga akhirnya dijual pada BBC pada Oktober 2007.
  • Lihat tahun penerbitan atau edisinya. Guidebooks yang baik adalah mengikuti dinamika perkembangan seperti politik dan keuangan (inflasi, mata uang dst). LP dan RG secara konstan merevisi buku sebelumnya. LP bahkan mencanangkan tiap 4 tahun sekali pada tempat2 yang populer.
  • Good information doesn't mean accurate one. Bandingkan aja buku satu dengan yang lain apakah informasi itu bagus dengan presentasi yang baik. Buku yang nampak indah mempesona belum tentu akurat isinya. Sedangkan buku dengan tampilan seadanya mungkin lebih kita butuhkan. Simak isi daripada sampul (dan photo).
  • Believe your own instinct. Buku adalah jendela dunia. Iyah tapi seterusnya terserah anda. Terkadang buku hanya memberikan gambaran kasar dan kita membiarkan detail2 di lapangan. Nilai adventure dan discovery jadi lebih kerasa kan?
  • Waspada over-hype. Ini biasanya menjangkiti pemilik restaurant atau penginapan yang tempatnya dimasukkan di LP. Kliatan dari caranya memasarkan dengan : "ditampilkan dalam Lonely Planet edisi Indonesia 2005" Kiat menjual ini bisa saja membuat kita tertarik atau sebaliknya. Saya sendiri cenderung tidak menuruti LP kalau urusan makan dan akomodasi. Lihat di lapangan aja langsung.
  • Everyone got their own opinion. Pada dasarnya buku panduan berisi opini si penulis. Ada buku yang dibuat dengan sistem kolaborasi yang mungkin membuat opini itu jadi blur. Karena itu membaca buku panduan harus dengan hati dan mata terbuka. It can be right, it can be wrong.

Bacaan berikutnya :
Lonely Planet and Globalization by Carl Parkes
Pengakuan salah satu penulis Lonely Planet yang menjadi skandal
Lonely Planet Answers a Writer's Claims at NY Times



Labels: ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home